BUGALIMA - Ketegangan yang membara antara dua desa di Flores Timur, Nusa Tenggara Tenggara, akhirnya meletus menjadi bentrokan fisik yang merusak. Insiden yang terjadi pada Jumat (6/3/2026) lalu, antara warga Desa Waiburak dan Desa Narasaosina di Kecamatan Adonara, Kabupaten Flores Timur, dilaporkan menyebabkan sekitar 30 rumah mengalami kerusakan, bahkan ada yang hangus terbakar. Peristiwa ini bukan hanya meninggalkan luka fisik bagi para korban, tetapi juga trauma mendalam bagi masyarakat yang terdampak.
Akar Masalah: Sengketa Lahan yang Tak Kunjung Usai
| Gambar dari Pixabay |
Penyebab utama dari bentrokan ini diduga kuat adalah sengketa kepemilikan lahan adat yang telah berlangsung lama. Perbedaan persepsi mengenai rencana pemanfaatan sebuah lokasi lahan di wilayah perbatasan kedua desa memicu ketegangan yang tak kunjung padam. Kedua belah pihak mengklaim kepemilikan atas tanah tersebut, namun komunikasi yang terputus di tingkat akar rumput membuat masalah ini semakin rumit. Gagal menemukan titik temu, baik secara administratif maupun melalui musyawarah, pada akhirnya memicu aksi spontanitas yang berujung pada gesekan fisik.
Kronologi Kejadian
Pada Jumat pagi (6/3/2026), situasi di lapangan menjadi panas. Bentrokan pecah, melibatkan lemparan batu dan penggunaan senjata rakitan serta senjata tajam. Pihak kepolisian, yang menerima laporan adanya ketegangan, segera bergerak ke lokasi untuk meredam situasi. Aparat TNI dan Polri dikerahkan untuk melakukan pengamanan, penyekatan massa, dan perlindungan terhadap warga yang rentan.
Dampak yang Mengerikan: Kerusakan dan Korban Luka
Akibat bentrokan ini, puluhan rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan. Data yang dihimpun menyebutkan ada sekitar 30 rumah yang rusak, baik karena dilempari batu maupun dibakar. Selain kerusakan fisik, beberapa warga juga dilaporkan terluka. Berdasarkan informasi dari Kepala Seksi Humas Polres Flores Timur, AKP Eliezer A. Kalelado, lima orang menjadi korban dalam peristiwa ini. Dua di antaranya, Jamadin Syaputra dan Mansyur Ola dari Dusun Bele, Desa Waiburak, mengalami luka akibat terkena tembakan senjata rakitan dan harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka. Tiga korban lainnya dari Desa Narasaosina mengalami luka ringan akibat benturan benda tumpul.
Upaya Evakuasi dan Penyelamatan
Dalam situasi yang mencekam, aparat keamanan juga melakukan evakuasi terhadap anak-anak sekolah yang berada di sekitar lokasi konflik. Mereka untuk sementara diamankan di Mapolsek Adonara Timur demi memastikan keselamatan mereka. Langkah ini menunjukkan keseriusan aparat dalam melindungi warga sipil, terutama anak-anak, dari dampak buruk konflik.
Penanganan Aparat Keamanan dan Pemerintah
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, menjelaskan bahwa pihaknya telah menempatkan personel di titik-titik rawan untuk mencegah meluasnya konflik. Selain itu, upaya komunikasi dengan tokoh masyarakat dari kedua desa terus dilakukan agar konflik segera berakhir. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti yang diduga digunakan saat bentrokan, termasuk ketapel, anak panah, senjata tajam, dan alat rakitan.
Mediasi dan Solusi Jangka Panjang
Pemerintah Kabupaten Flores Timur, melalui Wakil Bupati Ignasius Boli Uran, juga telah turun tangan untuk melakukan mediasi. Mediasi dilakukan secara terpisah terhadap warga dari kedua desa, dengan harapan dapat meredakan ketegangan dan mencari solusi damai. Upaya ini dilakukan berulang kali, namun bentrokan tetap terjadi. Pemerintah daerah berjanji akan terus mengupayakan dialog dan mediasi hingga tercapai penyelesaian yang adil. Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Flores Timur, Felix Suban Hoda, juga memutuskan untuk memindahkan sementara para siswa ke sekolah lain agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.
Situasi di lapangan kini berangsur kondusif berkat kehadiran aparat keamanan yang terus berjaga. Namun, akar masalah sengketa lahan harus segera diselesaikan secara tuntas agar konflik serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Source: Kompas.com
#BentrokanDesaFloresTimurSengketaLahanNTTRumahRusakAkibatKonflik