BBM Langka di Flores Timur? Pertamina Gercep Atasi Kendala Distribusi Solar & Pertalite yang Bikin Warga Kelimpungan!

BUGALIMA - Kehidupan di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sempat dilanda keresahan. Bukan karena bencana alam atau isu politik panas, melainkan kendala distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Bio Solar dan Pertalite yang membuat masyarakat kelimpungan. Bayangkan saja, 14 sub penyalur di sana mendadak sulit mendapatkan pasokan. Penyebabnya bukan stok yang habis, tapi ada masalah teknis pada aplikasi Mikrosite, di mana kode balkotnya terblokir. Ini membuat pemindaian barcode untuk BBM subsidi jadi terhambat. Situasi ini, yang dilaporkan terjadi pada akhir Februari 2026, memang sempat membuat warga, terutama yang berada di pulau-pulau seperti Adonara dan Solor, khawatir akan kelangkaan BBM.

Duduk Perkara: Blokir Kode Balkot Mikrosite

Kepala Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Setda Flores Timur, Tarsisius Kopong, membenarkan adanya kendala ini. Menurutnya, penyaluran BBM secara umum ke SPBU tetap berjalan normal dengan stok yang memadai. Namun, kendala spesifik terjadi pada 14 sub penyalur yang kesulitan mendapatkan Bio Solar dan Pertalite. "Penyaluran tetap jalan. Hanya untuk sub penyalur kita masih menunggu respon BPH MIGAS atas surat pemda Flores Timur," ujar Tarsisius Kopong, seperti dikutip dari HarianBasis.co. Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Flores Timur telah mengirimkan surat kepada BPH Migas permohonan penggunaan aplikasi Mikrosite, karena aplikasi XSTAR yang sebelumnya digunakan untuk penerbitan surat rekomendasi pembelian BBM, ternyata menyulitkan masyarakat, terutama pengguna transportasi darat. "Pemerintah Kabupaten Flores Timur memohon agar penginputan surat rekomendasi sebagaimana tersebut dapat dilakukan melalui aplikasi mikrosite," tandas Tarsisius.

Masalah ini memang cukup pelik. Aplikasi Mikrosite, yang notabene milik Pertamina, menjadi titik krusial. Pemblokiran kode balkot di dalamnya membuat proses distribusi BBM subsidi terhenti bagi sub penyalur. Hal ini ironisnya, membuat warga yang sudah memegang Surat Keputusan (SK) atau rekomendasi sebagai sub penyalur, justru tidak bisa mendapatkan BBM subsidi.

#### Dampak Langsung ke Masyarakat

Kelangkaan BBM ini tentu saja berdampak langsung pada aktivitas masyarakat. Di pulau Adonara dan Solor, misalnya, warga mulai merasakan dampaknya karena tidak tersedianya BBM di sub penyalur. Situasi ini memicu kekhawatiran akan lonjakan harga BBM eceran, sebagaimana pernah terjadi di wilayah lain di Flores, di mana Pertalite bisa dijual hingga Rp 50 ribu per botol saat terjadi kelangkaan. Ketergantungan pada sub penyalur ini sangat krusial, terutama bagi desa-desa dan wilayah kepulauan yang mungkin tidak memiliki SPBU terdekat.

Langkah Pertamina dan Koordinasi

Menyadari adanya kendala ini, PT Pertamina Patra Niaga tidak tinggal diam. Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Pertamina sedang berupaya menyelesaikan kendala teknis ini dengan melakukan penyesuaian sistem. "Pertamina sedang melakukan penyesuaian sistem untuk meningkatkan kualitas layanan," ujar Ahad Rahedi.

Langkah konkret yang diambil adalah melakukan penyesuaian sistem dari aplikasi Mikrosite ke aplikasi X-Star. Proses ini dilakukan dengan berkoordinasi erat dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Tujuannya adalah agar penyesuaian sistem ini dapat segera diselesaikan dan tidak menimbulkan kendala lebih lanjut di lapangan. "Pertamina berkoordinasi dengan BPH Migas untuk mempercepat penyelesaian penyesuaian sistem dari aplikasi Microsite ke aplikasi X-Star," jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Flores Timur sendiri telah berupaya membangun komunikasi dengan menyurati BPH Migas. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada jawaban resmi yang diterima. Meskipun demikian, Pertamina memastikan bahwa BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertadex tetap dapat dibeli tanpa hambatan.

Harapan ke Depan

Meskipun kendala distribusi BBM subsidi ini sempat menimbulkan keresahan, respons cepat dari Pertamina Patra Niaga dan koordinasi dengan pihak terkait memberikan secercah harapan. Penyesuaian sistem yang sedang berjalan diharapkan dapat segera tuntas, sehingga pasokan Bio Solar dan Pertalite kembali lancar ke 14 sub penyalur di Flores Timur. Masyarakat tentu berharap agar masalah serupa tidak terulang di masa mendatang, dan sistem distribusi energi di wilayah kepulauan seperti Flores dapat berjalan lebih stabil dan andal. Insiden ini juga menjadi pengingat pentingnya kesiapan sistem dan koordinasi yang solid antara pemerintah, Pertamina, dan BPH Migas dalam memastikan ketersediaan energi bagi seluruh lapisan masyarakat.

Source: HarianBasis.co



#DistribusiBBM #FloresTimur #Pertamina

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama