BUGALIMA - Indonesia, negeri kepulauan yang kaya akan keindahan alamnya, ternyata juga menyimpan potensi bencana yang tak terduga. Baru-baru ini, gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Guncangan yang terjadi pada Kamis, 9 April 2026, dini hari, meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat setempat. Tak tinggal diam, Pemerintah Kabupaten Flores Timur dengan sigap menetapkan status tanggap darurat bencana selama empat bulan, terhitung sejak 9 April hingga 8 Juli 2026. Langkah ini diambil demi mempercepat penanganan dampak bencana dan memastikan semua korban mendapatkan bantuan yang layak.
Gempa yang berpusat di laut, sekitar 21 kilometer tenggara Kota Larantuka, dengan kedalaman lima kilometer, memang tergolong dangkal. Namun, dampaknya cukup signifikan. Episentrum gempa berada pada koordinat 8,36 Lintang Selatan dan 123,15 Bujur Timur. Guncangan ini tidak hanya dirasakan sekali, tetapi juga diikuti oleh sejumlah gempa susulan hingga siang hari, menambah kekhawatiran warga yang sudah terlanjur panik. Wilayah yang paling parah terdampak adalah Kecamatan Adonara Timur, khususnya di Desa Terong dan Desa Lamahala Jaya. Di Desa Terong saja, tercatat 137 rumah mengalami kerusakan, dengan rincian 33 rumah rusak berat dan 104 rumah rusak ringan. Sementara itu, di Desa Lamahala Jaya, sedikitnya 49 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan. Tak hanya rumah warga, fasilitas umum seperti SPBU 02 Waiwerang dan bagian depan Masjid Jami Al-Ma'ruf juga tak luput dari kerusakan.
| Sumber: Pixabay |
Respons Cepat Pemerintah dan Aparat Keamanan
Melihat kondisi yang memprihatinkan, pihak kepolisian dan pemerintah daerah tidak tinggal diam. Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra langsung bergerak cepat meninjau lokasi kejadian setelah menerima laporan. Bersama personel TNI, pemerintah daerah, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), mereka bahu-membahu melakukan pendataan, evakuasi warga, serta menjaga situasi agar tetap kondusif.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goretty Nemo, menjelaskan bahwa status tanggap darurat ini bertujuan untuk mempercepat penanganan dampak bencana. Fokus utama selama masa tanggap darurat adalah pendistribusian bantuan logistik, tenda, dan alas tidur bagi para pengungsi. Pemberian bantuan ini ditujukan bagi warga yang terdampak dan sedang mengungsi, baik yang mengungsi secara mandiri di rumah kerabat maupun di lokasi pengungsian yang tersebar di sepuluh desa terdampak.
Kebutuhan Mendesak dan Tantangan Distribusi
Meskipun telah ditetapkan status tanggap darurat dan upaya penanganan terus dilakukan, tantangan besar masih dihadapi. Distribusi bantuan masih terbatas karena persediaan logistik di gudang BPBD dilaporkan mulai menipis, bahkan ada yang sudah habis. Hal ini menyebabkan belum semua pengungsi dapat terlayani sepenuhnya. BPBD Flores Timur masih mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi. Kebutuhan mendesak yang dilaporkan meliputi air bersih, perlengkapan mandi dan cuci, bahan kebutuhan pokok (sembako), terpal, tikar, perlengkapan bayi dan balita, kasur lipat, kursi roda, serta popok dewasa.
Jumlah pengungsi pun terus bertambah. Data sementara menunjukkan sebanyak 1.659 warga harus mengungsi, baik di rumah kerabat maupun di lokasi pengungsian yang tersebar di sepuluh desa terdampak. Sebelumnya, gempa Flores Timur tercatat menyebabkan sedikitnya 15 warga luka dan sekitar 100 warga dievakuasi.
Potensi Gempa Susulan dan Imbauan Tetap Tenang
Menyikapi kondisi pascagempa, Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada terhadap potensi gempa susulan. Ia juga menekankan pentingnya untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya serta mengikuti arahan petugas di lapangan.
"Polda NTT mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya, serta mengikuti arahan petugas di lapangan mengingat masih ada potensi gempa susulan," ujar Kombes Pol Henry Novika Chandra.
Ia menambahkan, personel kepolisian akan terus meningkatkan patroli dan pengamanan di wilayah terdampak maupun lokasi pengungsian untuk mencegah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Kehadiran polisi diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat.
Selain fokus pada keselamatan warga, kepolisian juga memastikan distribusi bantuan berjalan aman dan tepat sasaran. Tim Trauma Healing Polwan juga diturunkan untuk membantu pemulihan psikologis anak-anak di lokasi pengungsian, mengingat anak-anak adalah kelompok yang paling rentan mengalami trauma pasca gempa.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur sendiri, melalui Bupati Anton Doni Dihen, telah menetapkan tanggap darurat selama tujuh hari pada awalnya, sebelum akhirnya diperpanjang menjadi empat bulan. Pembangunan posko dan dapur umum juga dilakukan untuk mempercepat penanganan bencana dan memastikan distribusi bantuan berjalan optimal. Perlu dicatat bahwa penanganan gempa ini beririsan dengan masa tanggap darurat akibat cuaca ekstrem dan banjir lahar yang telah ditetapkan sejak 11 Desember 2025 hingga 30 April 2026.
Gempa bumi di Flores Timur ini menjadi pengingat kembali akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di Indonesia. Kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi dan memulihkan diri dari setiap musibah yang terjadi. Dukungan logistik, perhatian pada kebutuhan psikologis, dan informasi yang akurat adalah elemen penting dalam upaya pemulihan pascagempa ini.
Source: RRI.co.id
#Flores Timur #Gempa Bumi #Tanggap Darurat