BUGALIMA - Peristiwa memilukan kembali terjadi di tanah Flores Timur, Nusa Tenggara Tenggara Timur. Kali ini, bentrokan antara warga Desa Waiburak dan Desa Narasaosina di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, yang meletus pada Jumat, 6 Maret 2026, berdampak langsung pada dunia pendidikan. Demi memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan, para siswa dari kedua desa yang terlibat konflik terpaksa dialihkan ke sekolah lain. Keputusan ini diambil oleh Pemerintah Kabupaten Flores Timur sebagai langkah darurat untuk melindungi hak anak atas pendidikan di tengah ketegangan yang memanas.
Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Flores Timur, Felix Suban Hoda, menjelaskan bahwa langkah pengalihan siswa ini dilakukan agar mereka tidak ketinggalan pelajaran. "Dititipkan sementara ke sekolah lain," ujar Felix pada Senin, 9 Maret 2026. Keputusan ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan bagi pemerintah daerah, bahkan di tengah situasi yang tidak kondusif.
Akar Masalah: Sengketa Lahan yang Tak Kunjung Usai
Bentrok antara Desa Waiburak dan Desa Narasaosina ini bukanlah kali pertama terjadi. Akar masalahnya diduga kuat berasal dari sengketa lahan di wilayah perbatasan kedua desa. Sejarah konflik serupa di Flores Timur sebenarnya sudah berlangsung lama, bahkan tercatat pernah memicu korban jiwa dan kerusakan puluhan rumah pada bentrokan antara Desa Ile Pati dan Desa Bugalima pada Oktober 2024. Sengketa lahan hak ulayat ini seolah menjadi bom waktu yang terus memecah belah persaudaraan di tanah Adonara.
Situasi ini diperparah dengan penggunaan senjata rakitan, katapel, anak panah, dan senjata tajam seperti parang dalam bentrokan terbaru. Lima warga dilaporkan mengalami luka tembak, dua di antaranya bahkan harus dirujuk ke RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka untuk menjalani operasi pengangkatan benda asing dari tubuh mereka. Enam bangunan, termasuk gudang kopra, tempat usaha, dan rumah warga, juga dilaporkan rusak dan terbakar.
#### Upaya Pemerintah: Mediasi dan Pendekatan Humanis
Menyikapi eskalasi konflik, Pemerintah Kabupaten Flores Timur telah berulang kali melakukan upaya mediasi. Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan mediasi pada Kamis, 26 Februari 2026, sebelum bentrokan kembali pecah. Namun, komitmen yang dibangun melalui komunikasi tersebut tampaknya belum sepenuhnya diindahkan oleh kedua belah pihak.
Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, menegaskan bahwa pemerintah akan terus melakukan upaya persuasif melalui komunikasi dengan para tokoh masyarakat. Pendekatan humanis dengan melibatkan tokoh adat dan tokoh masyarakat menjadi kunci utama dalam meredam ketegangan dan mencari solusi damai melalui musyawarah.
Dampak Luas dan Harapan ke Depan
Keputusan memindahkan siswa adalah bukti nyata bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga oleh anak-anak yang seharusnya fokus pada menimba ilmu. Situasi ini juga menunjukkan tantangan besar dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah-daerah yang rentan terhadap konflik sosial.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur juga berencana menyusun strategi jangka panjang untuk mencegah terulangnya konflik serupa. Penguatan kapasitas mediasi, pemetaan persoalan lahan secara tuntas, dan kampanye perubahan paradigma "damai dulu baru cari keadilan" menjadi beberapa fokus utama. Selain itu, penguatan peran lembaga adat juga diharapkan dapat membantu mencegah pecahnya perang antarwarga.
Harapannya, dengan adanya intervensi dari pemerintah dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, sengketa lahan ini dapat segera terselesaikan secara adil. Tujuannya tidak lain adalah agar anak-anak Flores Timur dapat kembali belajar dengan tenang, tanpa dihantui rasa takut dan ketidakpastian akibat konflik antarwarga. Masa depan generasi penerus bangsa bergantung pada kemampuan kita untuk menciptakan kedamaian dan stabilitas di lingkungan mereka.
#KonflikLahanFloresTimur #PendidikanFloresTimur #MediasiKonflikDesa