BUGALIMA - Gemuruh letusan kembali terdengar dari Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Pada Rabu pagi, 4 Maret 2026, gunung api yang berstatus Waspada (Level II) ini memuntahkan abu vulkanik setinggi 800 meter di atas puncak. Peristiwa ini kembali mengingatkan masyarakat akan potensi bahaya yang mengintai dari aktivitas vulkanik yang masih tinggi di wilayah tersebut.
Kronologi Erupsi Terbaru
Erupsi tercatat terjadi pada pukul 08.39 WITA, dengan kolom abu berwarna kelabu berintensitas sedang yang teramati mengarah ke utara dan timur laut. Secara instrumental, aktivitas ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 11 mm dan durasi sekitar 47 detik. Meskipun status gunung masih berada di Level II (Waspada), Badan Geologi menekankan pentingnya kewaspadaan.
Rekomendasi Keselamatan untuk Warga
Otoritas vulkanologi, melalui Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengeluarkan rekomendasi tegas: masyarakat di sekitar gunung, serta pengunjung atau wisatawan, diminta untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi. Imbauan ini bertujuan untuk meminimalkan risiko paparan abu vulkanik dan potensi bahaya lainnya.
Sejarah Aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki
Gunung Lewotobi Laki-laki, bersama dengan puncaknya yang lebih tinggi, Gunung Lewotobi Perempuan, merupakan bagian dari kompleks gunung api kembar di ujung timur Pulau Flores. Gunung Lewotobi Laki-laki sendiri memiliki ketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut. Gunung ini memiliki sejarah erupsi yang cukup panjang, dengan catatan aktivitas signifikan terjadi pada tahun 1861, 1865, 1868, 1869, dan 1907. Aktivitas erupsi yang lebih sering terjadi pada Lewotobi Laki-laki dibandingkan Lewotobi Perempuan.
Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, gunung ini menunjukkan peningkatan aktivitas yang patut diwaspadai. Pada tahun 2024, tercatat berbagai erupsi, termasuk letusan yang menyebabkan ribuan warga mengungsi dan berdampak pada belasan desa. Pada November 2024, status aktivitas gunung bahkan sempat dinaikkan menjadi Level IV (Awas), dengan rekomendasi radius aman yang lebih luas, mencapai 7 kilometer.
Pada tahun 2025, aktivitas letusan kembali terjadi, bahkan pada bulan Juni, kolom abu vulkanik dilaporkan mencapai ketinggian sekitar 10.000 meter. Frekuensi erupsi yang tinggi ini menunjukkan bahwa Gunung Lewotobi Laki-laki masih sangat aktif dan berpotensi menimbulkan dampak yang signifikan.
Potensi Bahaya Susulan
Selain lontaran abu vulkanik, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Wilayah yang diidentifikasi berisiko meliputi Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote. Bagi masyarakat yang terdampak hujan abu, penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut sangat diimbau untuk menghindari gangguan pernapasan.
Pemerintah daerah terus berupaya menyampaikan perkembangan resmi kepada warga dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya. Koordinasi antara Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat terus dilakukan untuk memantau aktivitas gunung secara intensif.
#GunungLewotobi #ErupsiFloresTimur #BencanaAlamNTT