Flores Timur Tanggap Darurat Gempa: 1.659 Jiwa Mengungsi, Bantuan Terbatas

BUGALIMA - Langit Flores Timur kembali kelabu, bukan karena mendung, melainkan duka. Gempa bumi magnitudo 4,7 yang mengguncang pulau ini pada Rabu (8/4/2026) malam lalu, meninggalkan jejak keprihatinan mendalam. Pemerintah Kabupaten Flores Timur, dengan sigap namun penuh kewaspadaan, telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama empat bulan, terhitung mulai 9 April hingga 8 Juli 2026. Keputusan ini diambil setelah rapat koordinasi forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) pada 9 April 2026, sebuah langkah krusial untuk mempercepat penanganan dan pemulihan pasca-bencana.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goretty Nemo, menyampaikan bahwa fokus utama selama masa tanggap darurat ini adalah distribusi bantuan. Logistik, tenda, hingga alas tidur menjadi prioritas utama untuk para pengungsi yang tersebar di sepuluh desa terdampak. Tak hanya itu, pendataan kerusakan bangunan akibat gempa juga terus dilakukan. Hingga kini, tercatat 1.659 jiwa harus meninggalkan rumah mereka, mengungsi baik secara mandiri ke rumah kerabat maupun di lokasi pengungsian yang telah disiapkan di desa masing-masing.

Sumber: Pixabay

Ribuan Jiwa Kehilangan Rumah

Gempa yang berpusat di darat dengan kedalaman lima kilometer ini, memang terasa begitu kuat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur mencatat ribuan jiwa mengungsi dan ratusan bangunan rusak akibat gempa tektonik ini. Data sementara yang dikumpulkan hingga 10 April 2026 menunjukkan jumlah pengungsi sebanyak 285 kepala keluarga atau 1.313 jiwa. Kerusakan bangunan, baik rumah warga maupun fasilitas umum, mencapai 257 unit yang tersebar di 8 desa di Kecamatan Adonara Timur dan Solor Timur.

Desa Terong menjadi salah satu desa yang paling parah terdampak. Sebanyak 110 rumah warga rusak dan 3 fasilitas umum, termasuk mushola, Polindes, dan sekolah dasar, juga mengalami kerusakan. Di desa ini, 147 kepala keluarga atau 621 jiwa terdampak dan 17 orang mengalami luka ringan. Desa Lamahala Jaya juga tak luput dari kerusakan, dengan 104 rumah warga rusak dan berdampak pada 544 jiwa. Di desa ini, 4 fasilitas umum, termasuk masjid dan sekolah, juga mengalami kerusakan, serta 1 orang luka ringan. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan 215 rumah warga rusak dengan tingkat kerusakan bervariasi, mulai dari ringan hingga berat.

Keterbatasan Bantuan, Kebutuhan Mendesak

Meskipun status tanggap darurat telah ditetapkan, Maria Goretty Nemo mengakui bahwa distribusi bantuan masih terbatas. Persediaan di gudang pun ada yang sudah habis, sehingga belum semua pengungsi bisa mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Kebutuhan mendesak yang dilaporkan meliputi air bersih, perlengkapan mandi dan cuci, sembako, terpal, tikar, perlengkapan bayi dan balita, kasur lipat, kursi roda, dan pempers.

BPBD Provinsi NTT dan BNPB dilaporkan sedang berupaya mendistribusikan kebutuhan tenda dan logistik lainnya yang dibutuhkan di lokasi terdampak. Tenda pengungsi dan tenda keluarga menjadi kebutuhan yang mendesak karena stok sebelumnya telah digunakan untuk penanganan darurat bencana erupsi Gunungapi Lewotobi Laki-laki.

Langkah Antisipasi dan Kewaspadaan

Penetapan status tanggap darurat selama empat bulan ini diharapkan dapat mempercepat proses penanganan dan pemulihan. Sekretaris BPBD Flores Timur, Aris Tokan, menjelaskan bahwa status tanggap darurat ini dapat diperpanjang setelah mendapat pertimbangan dan laporan dari BMKG.

Di tengah upaya penanganan, gempa susulan masih terus terjadi. BMKG mencatat hingga Jumat (10/4/2026) pukul 12.51 WIB, tercatat 106 kali kejadian gempa susulan (aftershock). Gempa bumi yang terjadi tergolong gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif yang merupakan rangkaian dari gempa sebelumnya.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan mengikuti informasi resmi dari petugas berwenang. Mengingat kondisi tenda pengungsian yang terpusat masih belum optimal, banyak warga yang memilih mendirikan tenda mandiri di dekat rumah atau mengungsi ke rumah kerabat. Sebagian memilih tidur di tenda dekat rumah demi keamanan saat malam hari, mengingat gempa susulan masih terus terjadi.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa alam memiliki kekuatan yang tak terduga. Solidaritas dan kepedulian dari seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk meringankan beban saudara-saudara kita di Flores Timur. Bantuan sekecil apapun akan sangat berarti bagi mereka yang tengah berjuang bangkit dari keterpurukan pasca-gempa.

Source: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260412132137-20-493409/flores-timur-tetapkan-tanggap-darurat-bencana-gempa-1659-mengungsi



#Bencana Gempa Flores #Tanggap Darurat NTT #Pengungsi Gempa

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama