Gempa Adonara Timur: Kapolres dan Polwan Turun Tangan Bantu Ratusan Rumah Rusak

BUGALIMA - Langit di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mendung kelabu bukan hanya karena cuaca. Gempa bumi tektonik bermagnitudo 4,7 yang mengguncang pada Kamis (9/4/2026) dini hari itu telah merobek ketenangan warga, menghancurkan ratusan rumah, dan meninggalkan luka, baik fisik maupun psikologis. Namun, di tengah puing-puing dan kepanikan, secercah harapan muncul dari kesigapan aparat. Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra, S.I.K., bersama jajarannya, termasuk para Polwan, tak tinggal diam. Mereka turun langsung ke lokasi bencana, menjadi garda terdepan dalam upaya penanganan dan pemulihan.

Lini Depan Penyelamatan dan Pendataan

Sumber: Pixabay

Begitu gempa menghantam, Kapolres Adhitya Octorio Putra segera menginstruksikan pasukannya untuk bergerak cepat. Bersama TNI, pemerintah daerah, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), mereka langsung menuju titik-titik terparah terdampak gempa. Fokus utama adalah evakuasi warga yang mungkin masih terjebak, pendataan rumah-rumah yang rusak, serta pengamanan lokasi untuk mencegah potensi dampak buruk lebih lanjut. Wilayah Desa Terong dan Desa Lamahala Jaya menjadi lokasi prioritas penanganan. Di dua desa ini, ratusan rumah dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari ringan hingga berat. Tak hanya rumah warga, fasilitas umum seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 02 Waiwerang dan Masjid Jami Al-Ma'ruf juga tak luput dari amukan gempa.

Kapolres Adhitya Octorio Putra menegaskan pentingnya respons cepat dalam situasi seperti ini. “Personel Polres Flores Timur bersama TNI, pemerintah daerah dan BPBD langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan pendataan, membantu evakuasi warga serta memastikan situasi kamtibmas tetap aman,” ujar Kapolres. Pernyataan ini menunjukkan komitmen Polri yang tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelayan dan pelindung masyarakat di saat-saat paling genting.

Sentuhan Empati Melalui Trauma Healing

Gempa tidak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga menyisakan trauma mendalam, terutama pada anak-anak. Menyadari hal ini, Kapolres Adhitya Octorio Putra turut mengerahkan Tim Trauma Healing Polwan Polres Flores Timur. Para Polwan ini turun langsung ke tenda-tenda pengungsian, membawa keceriaan dan dukungan psikososial bagi anak-anak yang terguncang akibat bencana.

Melalui permainan edukatif, hiburan, dan komunikasi yang hangat, para Polwan berusaha mengembalikan senyum di wajah anak-anak yang trauma. Mereka menciptakan suasana yang aman dan nyaman, mengajak anak-anak berinteraksi aktif agar perlahan melupakan pengalaman menakutkan itu. Kasi Humas AKP Eliezer A. Kalelado menjelaskan, “Kami berupaya hadir tidak hanya dalam penanganan keamanan, tetapi juga memberikan perhatian terhadap pemulihan psikologis anak-anak pasca bencana. Diharapkan melalui kegiatan ini, anak-anak dapat kembali ceria dan perlahan melupakan trauma yang dialami.” Upaya ini adalah bukti nyata bahwa Polri hadir untuk memulihkan, tidak hanya fisik, tetapi juga mental masyarakat yang terdampak.

Bantuan Langsung ke Tangan yang Membutuhkan

Selain upaya penyelamatan dan pemulihan psikologis, Polres Flores Timur juga sigap dalam penyaluran bantuan logistik. Sejumlah paket bantuan sosial dari Kapolda NTT didistribusikan langsung kepada masyarakat terdampak di Desa Lamahala Jaya dan Desa Terong. Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra mengatakan, “Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat, khususnya saat menghadapi situasi darurat bencana. Kami hadir tidak hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memastikan masyarakat yang terdampak bencana mendapatkan bantuan dan perhatian.”

Bantuan yang disalurkan meliputi kasur lipat, perlengkapan kebutuhan hidup sementara, hingga sembako. Penyaluaran ini dilakukan secara terorganisir, bahkan personel harus menempuh perjalanan laut dari Pelabuhan Larantuka menuju Pelabuhan Tobilota, lalu melanjutkan perjalanan darat ke Adonara Timur. Hal ini menunjukkan dedikasi tinggi para petugas demi memastikan bantuan sampai ke tangan yang membutuhkan.

Mengatasi Trauma dan Ketidakpastian Pasca Gempa

Gempa susulan yang terus terjadi menambah kekhawatiran warga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur melaporkan bahwa warga korban gempa masih memilih tidur di luar rumah, beralaskan tenda darurat, karena trauma yang mendalam. Tingginya jumlah pengungsi yang mencapai ribuan jiwa di Kecamatan Adonara Timur dan Solor Timur menunjukkan skala kerusakan yang masif.

Dalam situasi seperti ini, kehadiran aparat keamanan dan penanggulangan bencana menjadi sangat krusial. Polres Flores Timur tidak hanya berfokus pada penanganan darurat, tetapi juga memastikan distribusi bantuan berjalan aman dan tepat sasaran. Polwan juga terlihat aktif membantu di dapur umum posko bencana, menyiapkan makanan bagi warga terdampak, menunjukkan semangat gotong royong yang kuat.

Pelajaran dari Adonara Timur

Peristiwa gempa di Adonara Timur menjadi pengingat bahwa bencana alam bisa datang kapan saja. Respons cepat dari Kapolres Flores Timur dan jajarannya, termasuk peran aktif para Polwan dalam trauma healing dan bantuan logistik, patut diapresiasi. Ini menunjukkan sinergi yang apik antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menghadapi cobaan.

Kapolda NTT melalui Kabidhumas mengimbau masyarakat agar tetap tenang, mengutamakan keselamatan, dan tidak kembali ke rumah yang rusak berat sebelum dinyatakan aman oleh petugas. Penting bagi masyarakat untuk tetap waspada terhadap gempa susulan dan mengikuti arahan dari petugas di lapangan. Peristiwa ini juga menggarisbawahi pentingnya kesiapan infrastruktur dan kesadaran masyarakat dalam menghadapi mitigasi bencana, agar kerugian dan trauma yang dialami bisa diminimalkan di masa depan.

Source: DIVISI HUMAS POLRI



#Gempa Adonara #Flores Timur #Polwan Tanggap Bencana

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama