BUGALIMA - Semerbak pagi di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kabupaten Flores Timur, kembali terusik oleh suara gemuruh yang familier. Gunung Lewotobi Laki-laki, sang raksasa yang sempat tertidur pulas, kini kembali menunjukkan taringnya. Pada Jumat, 17 April 2026, pukul 08:09 WITA, Gunung Lewotobi Laki-laki kembali erupsi, menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi kurang lebih 800 meter di atas puncak, atau sekitar 2.384 meter di atas permukaan laut. Laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bahwa kolom abu ini berwarna kelabu pekat dan condong mengarah ke utara dan timur laut, sebuah pola yang mungkin sudah mulai familiar bagi penduduk di sekitarnya.
Ini bukanlah kabar baru yang mengejutkan bagi warga Flores Timur. Sejak pertama kali erupsi pada Desember 2024 lalu, Gunung Lewotobi Laki-laki seolah tak pernah berhenti menyapa dengan semburan abu vulkaniknya. Frekuensi erupsi yang terus berulang ini tentu menjadi pengingat akan kekuatan alam yang senantiasa harus kita waspadai.
| Sumber: Pixabay |
Sejarah Panjang Lewotobi dalam Genggaman Erupsi
Gunung Lewotobi, sebuah kompleks gunung berapi dengan dua puncak, yaitu Gunung Lewotobi Perempuan dan Gunung Lewotobi Laki-laki, memiliki sejarah panjang dalam peta kegunungapian Indonesia. Tercatat, sudah ada 23 peristiwa erupsi yang pernah terjadi sepanjang sejarahnya, dimulai dari sekitar tahun 1675. Letusan pertama yang tercatat secara jelas terjadi pada Mei 1861. Tak disangka, abad ke-19 dan ke-20 menjadi saksi bisu bagi sekitar 20 kali erupsi yang dialami Gunung Lewotobi.
Secara spesifik, Gunung Lewotobi Laki-laki lah yang lebih sering menunjukkan aktivitasnya. Sejarah mencatat, gunung ini pernah erupsi pada tahun 1861, 1865, 1868 (dua kali), 1869, dan 1907. Peristiwa besar lainnya terjadi pada tahun 1921, bahkan pada November 2024 lalu, letusan dahsyat Gunung Lewotobi Laki-laki menelan korban jiwa dan menyebabkan ribuan orang mengungsi. Letusan November 2024 ini disebut-sebut sebagai peristiwa vulkanik terdahsyat di Indonesia sejak letusan Gunung Semeru pada 2021.
Erupsi Kali Ini: Abu 800 Meter dan Ancaman yang Tetap Ada
Kembali ke erupsi terbaru pada 17 April 2026, meskipun tinggi kolom abu tidak mencapai rekor tertinggi seperti beberapa erupsi sebelumnya yang bisa mencapai ribuan meter bahkan hingga 10 kilometer ke udara, namun tetap saja memberikan dampak yang patut diwaspadai. Laporan PVMBG menyebutkan bahwa abu vulkanik berwarna kelabu pekat ini berpotensi mengarah ke utara dan timur laut.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki, terutama yang berada di desa-desa seperti Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote, kewaspadaan harus tetap ditingkatkan. PVMBG sendiri telah mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat dan pengunjung tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi. Pihak berwenang juga mengingatkan akan potensi bahaya sekunder, seperti banjir lahar hujan, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Status Gunung dan Upaya Mitigasi
Status aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki sendiri kerap mengalami perubahan, mencerminkan dinamika vulkaniknya yang terus menerus. Pernah berada pada Level II (Waspada), kemudian naik ke Level III (Siaga), hingga mencapai Level IV (Awas). Kenaikan status ini biasanya didasarkan pada peningkatan aktivitas kegempaan yang mengindikasikan adanya suplai magma menuju permukaan.
Dalam menghadapi situasi ini, pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan instansi terkait terus melakukan upaya penanganan. Ini meliputi evakuasi warga jika diperlukan, pendistribusian bantuan logistik, hingga sosialisasi mengenai langkah-langkah mitigasi bencana. Masyarakat juga terus diimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan petugas pemantau gunung api.
Dampak Erupsi di Berbagai Sektor
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki tidak hanya berdampak pada keselamatan warga, tetapi juga pada berbagai sektor lain, termasuk transportasi udara. Pernah terjadi pembatalan ratusan penerbangan dari dan ke Bali, NTB, dan NTT akibat sebaran abu vulkanik yang mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan. Bahkan, sekolah-sekolah di Kabupaten Sikka pernah ditutup sementara, dan beberapa puskesmas tidak dapat melayani pasien karena bangunan terkena abu vulkanik.
Kekuatan alam seperti erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki ini mengingatkan kita akan pentingnya kesiapsiagaan dan respons yang cepat dari semua pihak. Dengan terus memantau perkembangan aktivitas gunung berapi dan mengikuti arahan dari pihak berwenang, kita dapat meminimalkan risiko dan melindungi diri dari ancaman bencana. Tetap waspada dan jaga diri.
Source: victorynews.id
#Gunung Lewotobi #Erupsi Gunung Berapi #Flores Timur