BUGALIMA - Suasana khidmat menyelimuti Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, seiring dengan dimulainya rangkaian prosesi Semana Santa 2026. Tradisi sakral yang telah berusia lebih dari lima abad ini kembali menarik perhatian ribuan peziarah dari berbagai penjuru negeri, bahkan mancanegara. Menyongsong puncak perayaan Paskah, Kapolda NTT, Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga, memimpin langsung pemantauan kesiapan pengamanan di berbagai titik vital, memastikan kelancaran dan keamanan bagi seluruh umat yang berpartisipasi.
Kesiapan Pengamanan Maksimal
Menjelang dan selama perayaan Semana Santa, aparat kepolisian bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Flores Timur telah bekerja keras untuk memastikan keamanan dan kenyamanan para peziarah. Kapolda NTT, Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga, secara langsung meninjau kesiapan pos pengamanan terpadu dan berbagai titik strategis, termasuk di sekitar Kapela Tuan Ma, pada Kamis, 2 April 2026. Kunjungan ini menegaskan komitmen Polda NTT untuk memberikan rasa aman dan nyaman, sejalan dengan semangat "Polda NTT Penuh Kasih".
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, beserta pejabat utama Polda NTT turut mendampingi Kapolda dalam pengecekan ini. Mereka tidak hanya memastikan kesiapan personel dan sarana pendukung, tetapi juga berdialog langsung dengan petugas di lapangan untuk memastikan pelayanan optimal. Pengamanan tidak hanya difokuskan pada kelancaran prosesi, tetapi juga mencakup pelayanan publik, pengaturan lalu lintas, dan antisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Prediksi Jutaan Peziarah
Pemerintah Kabupaten Flores Timur memprediksi bahwa pelaksanaan Semana Santa 2026 akan dihadiri oleh sekitar 30 ribu peziarah. Data pendaftar daring hingga akhir Maret 2026 tercatat sebanyak 1.927 orang, dengan 358 orang di antaranya telah melakukan check-in. Menariknya, di antara para peziarah tersebut terdapat tujuh orang non-Katolik dan sepuluh peziarah dari luar negeri, termasuk dua dari Prancis dan delapan dari Timor Leste. Angka ini menunjukkan daya tarik Semana Santa Larantuka yang kian mendunia, tidak hanya sebagai perayaan keagamaan tetapi juga sebagai destinasi wisata budaya dan religi.
Sejarah dan Keunikan Semana Santa
Semana Santa, atau "Hari Bae", merupakan ritual perayaan Pekan Suci Paskah yang telah berlangsung selama tujuh hari berturut-turut oleh umat Katolik di Larantuka, Flores Timur. Tradisi ini berakar kuat dari pengaruh Portugis sejak abad ke-16, ditandai dengan penemuan Patung Tuan Ma di Pantai Larantuka pada tahun 1510. Sejak saat itu, Larantuka dikenal sebagai "Kota Reinha" atau kota yang diberkati Maria, menjadikannya tonggak sejarah peradaban Katolik di Pulau Flores.
Keunikan Semana Santa Larantuka terletak pada perpaduan antara nilai religius yang mendalam dan kearifan lokal masyarakat Lamaholot. Prosesi laut yang ikonik, seperti pengarakan Patung Tuan Menino melintasi laut, menjadi simbol perjalanan iman yang penuh makna. Selain itu, tradisi ini juga menjadi wujud toleransi antar umat beragama, menjadikan Flores Timur sebagai simbol kerukunan.
Refleksi Uskup Larantuka
Menyambut perayaan Semana Santa 2026, Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, mengajak umat untuk merenungkan makna perjalanan iman yang panjang dari tradisi ini. Ia menekankan bahwa Semana Santa bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga cerminan dari spiritualitas yang kuat pada Bunda Perawan Maria dan warisan budaya yang terus lestari lintas generasi. Peran perempuan, seperti Mama Muji, dalam menjaga doa dan tradisi di kapela-kapela juga menjadi sorotan penting.
Semana Santa Larantuka telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 10 Oktober 2025, sebuah pengakuan atas kekayaan nilai religius dan budayanya. Keberadaan tradisi ini, yang telah bertahan lebih dari lima abad, membuktikan bahwa iman dan budaya dapat berjalan seiring, saling menguatkan, dan menjadi jembatan antar generasi.
#SemanaSanta #FloresTimur #KapoldaNTT