BUGALIMA - Gempa bumi, sebuah bencana alam yang seringkali meninggalkan luka tak kasat mata, terutama bagi para korban. Di tengah kepedihan dan ketidakpastian pasca-guncangan dahsyat, hadirnya sosok-sosok penenang menjadi sangat vital. Di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Polisi Wanita (Polwan) dari Polres Flores Timur telah menunjukkan perannya yang luar biasa dalam upaya memulihkan trauma anak-anak yang menjadi korban gempa. Kehadiran mereka bukan sekadar tugas, melainkan panggilan kemanusiaan yang tulus.
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 4,5 yang mengguncang wilayah Flores Timur pada Kamis, 9 April 2026, dini hari, meninggalkan jejak kerusakan dan, yang lebih penting, rasa takut yang mendalam di hati para anak. Menyadari kerentanan psikologis anak-anak pasca-bencana, Polres Flores Timur melalui Tim Trauma Healing Polwan bergerak cepat untuk memberikan dukungan. Kegiatan ini difokuskan di tenda-tenda pengungsian warga Desa Lamahala Jaya, Kecamatan Adonara Timur, tempat di mana anak-anak korban gempa menemukan perlindungan sementara.
| Sumber: Pixabay |
Kehadiran Polwan di tengah pengungsian bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah intervensi psikososial yang terencana. Mereka hadir untuk memberikan dukungan emosional dan membantu anak-anak mengurangi rasa takut serta trauma yang diakibatkan oleh gempa. Bagaimana caranya? Melalui pendekatan yang hangat dan penuh kasih, para Polwan ini mengajak anak-anak untuk berpartisipasi dalam berbagai permainan edukatif dan aktivitas hiburan. Tujuannya sederhana namun mendalam: menciptakan suasana ceria di tengah kondisi yang suram, membangun kembali rasa aman, dan memulihkan kenyamanan mereka. Komunikasi yang terbuka dan interaksi yang aktif menjadi kunci. Polwan berupaya keras agar anak-anak merasa nyaman untuk berinteraksi, berbagi cerita, dan mengekspresikan perasaan mereka tanpa rasa takut.
Dampak Psikologis Gempa pada Anak
Gempa bumi, seperti yang terjadi di Flores Timur, membawa dampak psikologis yang signifikan, terutama pada anak-anak. Anak-anak rentan mengalami kecemasan, ketakutan, gangguan tidur, bahkan hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) jika tidak ditangani dengan baik. Pengalaman traumatis akibat gempa dapat memicu berbagai respons, mulai dari ketakutan berlebihan, mimpi buruk, kesulitan berkonsentrasi, hingga perubahan perilaku seperti mudah tersinggung atau menarik diri dari lingkungan sosial.
Dalam konteks ini, peran Polwan dalam melakukan *trauma healing* menjadi sangat krusial. *Trauma healing* adalah serangkaian tindakan yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan gangguan psikologis yang dialami seseorang akibat syok atau trauma. Bagi anak-anak, pendekatan yang dilakukan oleh Polwan Polres Flores Timur sangat tepat sasaran. Mereka menggunakan metode yang menyenangkan, seperti permainan edukatif, yang tidak hanya menghibur tetapi juga membantu anak-anak mengekspresikan perasaan mereka, melatih kepercayaan diri, dan mendorong kerja sama tim. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian bahwa terapi bermain dan kegiatan edukatif yang melibatkan komunitas terbukti efektif dalam membantu anak-anak mengekspresikan diri dan mengurangi gejala trauma.
Komitmen Polri dalam Pelayanan Kemanusiaan
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, melalui Kasi Humas AKP Eliezer A. Kalelado, menegaskan komitmen Polri dalam pelayanan kemanusiaan. Ia menekankan bahwa kehadiran Polri tidak hanya terbatas pada aspek keamanan, tetapi juga memberikan perhatian mendalam terhadap pemulihan psikologis masyarakat yang terdampak bencana. Kegiatan *trauma healing* ini adalah bukti nyata bahwa Polri peduli terhadap kesejahteraan mental korban, khususnya anak-anak, agar mereka dapat kembali ceria dan perlahan melupakan pengalaman traumatis akibat gempa.
Upaya pemulihan psikologis ini merupakan bagian integral dari penanganan dampak bencana secara menyeluruh. Polres Flores Timur berkomitmen untuk terus melaksanakan kegiatan serupa selama masa tanggap darurat, memastikan kondisi mental anak-anak tetap terjaga. Sinergi dengan berbagai pihak terkait juga terus diperkuat untuk memastikan penanganan yang optimal.
Upaya yang dilakukan oleh Polwan Polres Flores Timur ini mencerminkan esensi sejati dari tugas kepolisian sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Di saat-saat paling rentan, mereka hadir membawa senyum, tawa, dan harapan, membuktikan bahwa di balik seragam, ada hati yang peduli dan siap mengulurkan tangan untuk memulihkan jiwa-jiwa yang terluka. Kehadiran mereka adalah pengingat bahwa bahkan di tengah kehancuran, ada kekuatan dalam kepedulian dan empati yang mampu menyembuhkan.
Source: RRI.co.id
#Trauma Healing #Polwan Flores Timur #Anak Korban Gempa