Trauma Gempa Flores Timur: Mengapa Warga Enggan Pulang dan Butuh Perhatian Lebih

BUGALIMA - Gempa bumi, bencana yang tak pernah bisa diprediksi kapan datangnya dan seberapa besar dampaknya. Indonesia, negara yang terletak di cincin api Pasifik, seolah tak pernah lepas dari ancaman gempa. Terbaru, gempa berkekuatan magnitudo 4,7 mengguncang Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat (9/4/2026) dini hari. Kejadian ini bukan sekadar peristiwa alam biasa, melainkan meninggalkan luka yang mendalam bagi sebagian warganya. Bukti nyata terlihat jelas: alih-alih segera kembali ke rumah, banyak warga yang memilih bertahan di tenda pengungsian. Trauma akibat gempa membuat mereka enggan kembali ke kediaman masing-masing, diliputi kekhawatiran akan gempa susulan yang terus menghantui.

Menyingkap Tabir Trauma Pasca-Gempa

Sumber: Pixabay

Fenomena warga Flores Timur yang enggan kembali ke rumah ini bukanlah sekadar soal fisik bangunan yang rusak. Lebih dari itu, ini adalah potret nyata dari dampak psikologis yang dahsyat pasca-bencana. Gempa bumi, apalagi yang disertai dengan gempa susulan, dapat menimbulkan trauma mendalam. Seperti yang dijelaskan dalam berbagai studi, dampak bencana tidak hanya berupa kehilangan harta benda atau tempat tinggal, tetapi juga kehilangan rasa aman dan ketidakpastian akan masa depan. Kondisi ini bisa berkembang menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) jika tidak ditangani dengan baik.

PVidya Loka News, sebuah media daring, melaporkan bahwa gempa magnitudo 4,7 yang terjadi pada Jumat (9/4/2026) menyebabkan ratusan rumah rusak di dua desa, yakni Desa Terong dan Desa Lamahala Jaya, Kecamatan Adonara Timur. Kerusakan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memicu ketakutan yang luar biasa bagi para penyintasnya. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goretty Nebo Tukan, menyatakan bahwa sebagian warga lebih memilih tidur di luar rumah demi keamanan. Tindakan ini, meski terlihat sederhana, adalah manifestasi dari rasa trauma yang mendalam. Mereka merasa lebih aman berada di tempat terbuka, di bawah tenda, daripada kembali ke dalam rumah yang pernah berguncang hebat.

Kisah serupa datang dari Desa Baniona, Kecamatan Wotan Ulumado. Josep, salah seorang warga, mengaku telah empat malam tidur di teras rumah sebagai langkah antisipasi. Ini menunjukkan bahwa ketakutan tidak hanya melanda mereka yang rumahnya rusak parah, tetapi juga merembet ke desa-desa sekitar. Ketidakpastian akan gempa susulan membuat masyarakat hidup dalam kewaspadaan tinggi, mengorbankan kenyamanan demi keselamatan.

PTSD dan Dampak Psikologis Lainnya

Penting untuk dipahami bahwa trauma pasca-gempa bumi bukan hanya sekadar rasa takut sesaat. Gangguan kecemasan yang berkelanjutan, depresi, dan PTSD adalah beberapa dampak psikologis yang rentan dialami oleh para korban. Anak-anak, kelompok yang paling rentan, seringkali mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, dan ketakutan berlebih. Bayangkan betapa beratnya beban psikologis yang mereka pikul setiap harinya.

Gempa bumi di Flores Timur yang terjadi pada 14 Desember 2021 dengan magnitudo 7,4 sempat memicu peringatan dini tsunami. Meskipun gempa terbaru kali ini memiliki magnitudo yang lebih kecil, memori akan guncangan dahsyat dan kerusakan yang ditimbulkan masih membekas kuat di ingatan warga. Indonesia sendiri, seperti yang disampaikan oleh BMKG, merupakan negara yang sangat rawan bencana alam karena terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik. Ini berarti, risiko gempa bumi akan selalu ada, dan penanganan pasca-bencana harus mencakup aspek psikologis secara mendalam.

Lebih dari Sekadar Bantuan Logistik: Kebutuhan Mendesak akan Dukungan Psikologis

Dalam situasi bencana seperti ini, bantuan logistik seperti beras dan kebutuhan pokok memang sangat penting. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa pemulihan pasca-bencana tidak hanya bersifat fisik. Pemulihan psikologis adalah aspek krusial yang seringkali terabaikan. Para penyintas membutuhkan dukungan emosional, pendampingan, dan konseling untuk mengatasi trauma yang mereka alami.

Pemerintah daerah, bersama dengan TNI, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), memang telah bergerak cepat dalam penanganan darurat, termasuk evakuasi, bantuan logistik, dan pendirian tenda pengungsian. Namun, perlu ada upaya yang lebih terstruktur untuk menangani aspek psikologis ini. Program "Psychological First Aid" (PFA) atau pertolongan pertama psikologis, yang telah dikembangkan oleh beberapa lembaga di Indonesia, bisa menjadi solusi. PFA memberikan pengetahuan dasar mengenai kondisi psikologis pasca-bencana dan langkah-langkah praktis untuk mengatasinya.

Pengalaman traumatis seperti gempa bumi dapat memicu berbagai masalah kesehatan mental. Studi menunjukkan adanya hubungan antara PTSD dengan faktor seperti usia, jenis kelamin, strategi koping, dan efikasi diri. Ini menunjukkan bahwa penanganan trauma harus bersifat personal dan mempertimbangkan berbagai faktor individu.

Masyarakat Flores Timur saat ini membutuhkan lebih dari sekadar bantuan materiil. Mereka membutuhkan kepastian, rasa aman, dan dukungan moril untuk bangkit kembali. Kemauan mereka untuk tidur di tenda pengungsian, meski tidak nyaman, adalah bukti kuat bahwa trauma gempa masih membayangi. Sudah saatnya kita memberikan perhatian yang lebih besar pada aspek psikologis dalam penanganan pasca-bencana, agar masyarakat Flores Timur, dan korban bencana lainnya, dapat benar-benar pulih dan membangun kembali kehidupan mereka dengan lebih baik.

Source: kumparan.com



#Flores Timur #Trauma Gempa #Pengungsi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama