BUGALIMA - Alam memang tak pernah bohong. Ketika ia "marah", dampaknya sungguh nyata dan tak bisa ditampik. Di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kabupaten Flores Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki kembali menunjukkan keganasannya. Dalam rentang waktu yang relatif singkat, gunung ini dilaporkan telah erupsi sebanyak lima kali. Lima kali! Bukan angka yang bisa dianggap remeh, apalagi jika kita membicarakan tentang kekuatan alam yang sedang murka. Dan tahukah Anda apa dampak paling memprihatinkan dari rentetan erupsi ini? Para pengungsi yang seharusnya mencari perlindungan justru mulai terserang penyakit.
Menurut laporan terbaru, Gunung Lewotobi Laki-laki telah meletus sebanyak lima kali dalam periode Jumat (12/6/2026) pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. Lima kali letusan ini menghasilkan kolom abu dengan ketinggian yang bervariasi, mencapai 300 hingga 1.000 meter di atas puncak. Bayangkan, setinggi apa itu? Ribuan meter di atas permukaan bumi, menyemburkan material vulkanik yang kini menghantui kehidupan warga di sekitarnya. Kondisi ini jelas membuat aktivitas gunung berapi ini terus menjadi sorotan, dengan statusnya yang masih berada di Level III (Siaga).
| Sumber: Pixabay |
Ini bukan sekadar berita gempa bumi biasa yang datang dan pergi. Ini adalah gambaran nyata tentang bagaimana aktivitas vulkanik yang meningkat dapat berdampak langsung pada kehidupan manusia, terutama mereka yang paling rentan. Para pengungsi, yang sudah kehilangan rumah dan ketenangan, kini harus berjuang melawan penyakit yang disebabkan oleh abu vulkanik yang beterbangan di udara.
Ancaman Kesehatan dari Abu Vulkanik
Abu vulkanik, bagi kita yang jarang mengalaminya, mungkin terdengar seperti sesuatu yang biasa. Namun, bagi para pengungsi di Flores Timur, abu vulkanik ini adalah momok yang mengancam kesehatan. Laporan menyebutkan bahwa banyak dari mereka mulai terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan influenza. Ini adalah penyakit yang mungkin terdengar sepele, namun bagi mereka yang hidup dalam kondisi pengungsian yang serba terbatas, ISPA dan influenza bisa menjadi masalah yang serius.
Bagaimana tidak? Di tengah kondisi yang serba darurat, akses terhadap layanan kesehatan yang memadai bisa jadi sangat sulit. Udara yang tercemar abu vulkanik terus-menerus dihirup, baik saat berada di luar ruangan maupun di dalam tenda pengungsian yang seadanya. Paparan abu vulkanik ini dapat mengiritasi saluran pernapasan, memicu batuk, pilek, sesak napas, dan berbagai gejala penyakit pernapasan lainnya.
PVMBG sendiri telah mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut guna menghindari dampak abu vulkanik terhadap sistem pernapasan. Instruksi ini jelas, namun pelaksanaannya di tengah situasi pengungsian yang penuh keterbatasan tentu tidaklah mudah. Seberapa banyak masker yang tersedia? Apakah semua pengungsi memiliki akses yang sama terhadap perlindungan diri ini? Pertanyaan-pertanyaan ini mengusik nurani kita.
Bukan Sekadar Abu, Ada Ancaman Lahar Hujan
Namun, ancaman dari Gunung Lewotobi Laki-laki tidak berhenti pada abu vulkanik saja. Ada pula potensi bahaya lain yang harus diwaspadai, yaitu banjir lahar hujan. PVMBG telah mengingatkan agar masyarakat mewaspadai potensi ini, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung. Wilayah seperti Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote menjadi daerah yang paling berisiko saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Banjir lahar hujan ini bisa menjadi bencana susulan yang lebih dahsyat. Material vulkanik yang menumpuk di lereng gunung, ketika bercampur dengan air hujan, dapat menciptakan aliran lumpur panas yang sangat destruktif. Ini adalah pengingat brutal bahwa aktivitas gunung berapi adalah sebuah sistem yang kompleks, di mana satu letusan dapat memicu serangkaian bencana lainnya.
Situasi yang Membutuhkan Perhatian Serius
Kondisi di Flores Timur ini adalah cerminan dari kerentanan wilayah kita terhadap bencana alam. Erupsi yang berulang kali terjadi, seperti yang dilaporkan pada Gunung Lewotobi Laki-laki, menunjukkan bahwa ancaman ini bersifat persisten. Laporan menyebutkan bahwa gunung ini telah erupsi 44 kali dalam sepekan, dan bahkan pernah meletus hebat dengan kolom abu mencapai 8.000 meter. Pada November 2024, erupsi bahkan mengakibatkan sembilan orang meninggal dunia dan ribuan jiwa terdampak.
Melihat frekuensi erupsi yang begitu tinggi, kita bisa membayangkan betapa besar tekanan yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Ribuan jiwa telah terdampak, dan sekitar 2.734 kepala keluarga atau setara dengan 10.295 jiwa menjadi korban. Ribuan warga mengungsi, sebagian besar dari Kecamatan Wulanggitang, Ile Bura, dan Titehena.
Pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat, dan bahkan status aktivitas gunung telah dinaikkan menjadi Level IV (Awas) pada beberapa periode. Ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi.
Refleksi dan Aksi Nyata
Kejadian di Gunung Lewotobi Laki-laki ini seharusnya menjadi momentum bagi kita semua untuk merenung. Bukan hanya tentang kekuatan alam yang dahsyat, tetapi juga tentang bagaimana kita sebagai manusia meresponsnya. Kesiapsiagaan bencana harus menjadi prioritas, bukan hanya dalam bentuk teori, tetapi dalam aksi nyata.
Pendistribusian bantuan logistik, pemulihan, dan penanganan kesehatan bagi para pengungsi harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Sistem peringatan dini harus terus diperkuat, dan edukasi kepada masyarakat tentang mitigasi bencana harus digalakkan. Informasi yang akurat dan terpercaya harus menjadi panduan, bukan sekadar rumor atau berita bohong yang justru menimbulkan kepanikan.
Pemerintah daerah, badan penanggulangan bencana, dan semua pihak terkait harus terus berkoordinasi. Jangan sampai, di tengah ancaman erupsi yang tak kunjung usai, masyarakat justru semakin terpuruk karena kurangnya perhatian dan dukungan. Nasib para pengungsi yang mulai terserang penyakit ini adalah panggilan darurat bagi kita semua. Kita harus bertindak, bukan hanya sekadar melaporkan.
#Gunung Lewotobi #Bencana Alam #Flores Timur