Trauma Healing Adonara Timur: Polres Flotim Pulihkan Senyum Anak Pasca Konflik

BUGALIMA - Di tengah riuh rendah kehidupan pasca-konflik yang menyelimuti Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, terselip secercah harapan bagi anak-anak yang menjadi korban. Polres Flores Timur, dengan inisiatif yang patut diacungi jempol, menggelar kegiatan *trauma healing* yang dipadukan dengan terapi *Universal Spiritual Emotional Freedom Technique* (USEFT). Ini bukan sekadar program pencegahan, melainkan sebuah upaya nyata untuk mengembalikan keceriaan dan ketenangan jiwa anak-anak yang terluka akibat perselisihan antarwarga yang sempat mengguncang daerah mereka.

Konflik yang terjadi di antara Desa Waiburak dan Desa Narasaosina beberapa waktu lalu memang meninggalkan luka mendalam. Bentrokan yang dipicu oleh sengketa lahan ulayat ini tidak hanya merenggut tiga nyawa dan membakar 20 rumah, tetapi juga meninggalkan trauma psikologis yang signifikan, terutama pada anak-anak. Mereka menyaksikan sendiri kengerian, kehilangan rasa aman, dan mungkin saja menyaksikan hal-hal yang tak seharusnya dilihat oleh mata kecil mereka. Di sinilah peran Polres Flores Timur menjadi sangat krusial.

Sumber: Pixabay

Menanamkan Kembali Benih Kepercayaan Diri dan Kedamaian

Kegiatan *trauma healing* ini bukanlah sesi terapi yang kaku dan membosankan. Sebaliknya, para personel Polwan Polres Flores Timur mengemasnya dengan pendekatan yang humanis dan menyentuh hati. Mereka memahami bahwa anak-anak membutuhkan suasana yang aman, nyaman, dan menyenangkan untuk bisa terbuka dan melepaskan beban psikologis mereka. Oleh karena itu, rangkaian acara diawali dengan berbagai permainan edukatif yang merangsang tawa, sesi bernyanyi bersama yang riang, serta berbagai aktivitas interaktif lainnya. Tujuannya jelas: mencairkan suasana, membangun kedekatan emosional, dan menumbuhkan rasa percaya di antara anak-anak dengan para anggota Polri.

"Anak-anak adalah generasi penerus yang harus kita jaga bersama," ujar Kapolres Flores Timur AKBP Gede Putra Yase, S.H., melalui Kasi Humas AKP Eliezer A. Kalelado, S.H.. Pernyataan ini menegaskan betapa pentingnya peran Polri dalam memulihkan kondisi psikologis anak-anak. Mereka tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung dan sahabat bagi anak-anak yang rentan.

Terapi USEFT: Jembatan Menuju Ketenangan Batin

Selain permainan dan interaksi sosial, sesi terapi USEFT menjadi elemen penting dalam pemulihan ini. USEFT, yang merupakan singkatan dari *Universal Spiritual Emotional Freedom Technique* atau *Ultimate SBMS Emotional Freedom Technique*, adalah sebuah metode relaksasi yang memadukan teknik *tapping* (ketukan ringan pada titik-titik tertentu di tubuh), pengenalan emosi, dan afirmasi positif. Terapi ini dirancang untuk membantu individu, terutama anak-anak, dalam mengurangi tekanan psikologis, menghilangkan rasa takut dan kecemasan, serta membangun kembali rasa percaya diri.

Dalam konteks pasca-konflik Adonara Timur, terapi USEFT menjadi jembatan yang efektif untuk membantu anak-anak melepaskan trauma yang mereka alami. Dengan bimbingan yang lembut dan penuh empati dari para terapis, anak-anak diajak untuk mengenali emosi mereka, merelaksasi tubuh, dan menanamkan pikiran-pikiran positif. Hasilnya pun mulai terlihat. Anak-anak yang semula mungkin terlihat murung dan menarik diri, kini mulai berani berinteraksi, terlihat lebih ceria, rasa cemas berkurang, dan semangat belajar kembali tumbuh.

Lebih dari Sekadar Trauma Healing: Kepedulian yang Menyeluruh

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Polres Flores Timur ini tidak berhenti pada sesi *trauma healing* dan terapi USEFT saja. Bentuk kepedulian Polri terhadap anak-anak terdampak konflik juga ditunjukkan melalui pemberian bantuan perlengkapan sekolah, seperti tas, buku tulis, alat tulis, dan kotak pensil. Bantuan ini bukan sekadar simbolis, melainkan sebuah bentuk perhatian nyata yang diharapkan dapat memberikan semangat tambahan bagi anak-anak untuk kembali fokus pada pendidikan mereka.

Kapolda NTT, melalui pesan yang disampaikan, menegaskan komitmen Polri untuk tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga pada pemulihan sosial dan psikologis masyarakat. Pernyataan ini menunjukkan visi yang holistik dari institusi Polri dalam menangani dampak konflik. Mereka memahami bahwa untuk membangun kembali masyarakat yang utuh, aspek psikologis dan emosional, terutama pada generasi muda, harus menjadi prioritas utama.

Mengembalikan Semangat Belajar dan Menanamkan Nilai Perdamaian

Tujuan akhir dari seluruh rangkaian kegiatan ini adalah untuk mengembalikan keceriaan anak-anak, membangun kembali rasa percaya diri mereka, dan menumbuhkan kembali semangat belajar. Lebih dari itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai persaudaraan, perdamaian, dan toleransi di antara anak-anak dari kedua desa yang sempat terlibat dalam konflik. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya hidup rukun dan saling menghormati, diharapkan konflik serupa tidak akan terulang di masa depan.

Kisah di balik layar kegiatan *trauma healing* di Adonara Timur ini adalah bukti nyata bahwa kehadiran Polri tidak hanya sebatas pada tugas-tugas konvensional. Mereka mampu hadir sebagai agen perubahan yang membawa harapan, memulihkan luka batin, dan menanamkan kembali senyum di wajah anak-anak yang menjadi korban dari sebuah konflik. Ini adalah pendekatan yang humanis, menyentuh, dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang tengah berjuang untuk bangkit kembali.

Source: https://rri.co.id/regional/137428/anak-terdampak-konflik-adonara-timur-ikuti-trauma-healing-polres-flotim



#Trauma Healing #Adonara Timur #Polres Flores Timur

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama