BUGALIMA - Kehidupan di sekitar kaki Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini diselimuti sedikit kelegaan. Berdasarkan laporan terbaru dari Pos Pemantau Gunung Lewotobi Laki-laki, aktivitas vulkanik gunung ini menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan selama periode 1 hingga 15 Oktober 2026. Kabar baik ini tentu disambut hangat oleh masyarakat yang telah lama hidup dalam bayang-bayang potensi bencana. Namun, seperti sifat gunung api yang penuh dinamika, kewaspadaan tetap menjadi kunci utama.
Penurunan Aktivitas, Namun Ancaman Masih Ada
| Sumber: Pixabay |
Kepala Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki, Herman S Boro, menjelaskan bahwa penurunan aktivitas vulkanik ini terlihat jelas dari berkurangnya berbagai jenis gempa vulkanik. Gempa vulkanik dalam, yang seringkali menjadi indikator pergerakan magma di kedalaman, tercatat sebanyak 65 kejadian. Angka ini menurun drastis dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 92 kejadian. Begitu pula dengan gempa frekuensi rendah (low frequency) yang berkurang dari 70 menjadi 44 kejadian, serta gempa harmonik yang menurun dari delapan menjadi hanya dua kejadian. Data ini memberikan gambaran bahwa energi di dalam perut gunung api tampaknya sedang mereda.
Meskipun demikian, Herman mengingatkan bahwa penurunan parameter kegempaan bukan berarti ancaman erupsi telah sirna sepenuhnya. Dinamika fluida dan gas di dalam tubuh gunung api masih terus berlangsung dan terdeteksi oleh alat pemantau. Hal ini menjadi pengingat bahwa gunung api adalah sistem yang kompleks, dan aktivitasnya bisa berubah sewaktu-waktu. Erupsi terakhir Gunung Lewotobi Laki-laki sendiri tercatat pada 31 Agustus 2026, sebuah peristiwa yang masih membekas dalam ingatan warga.
Visualisasi Aktivitas: Asap Tipis dan Langit Cerah
Dari pengamatan visual, kondisi gunung api juga menunjukkan perubahan. Selama periode pemantauan, gunung ini terpantau jelas meskipun terkadang tertutup kabut tebal. Asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang, dengan ketinggian sekitar 50 hingga 200 meter di atas puncak. Ketinggian asap ini relatif stabil dan tidak menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan. Selain itu, selama periode 1–15 Oktober 2026, tidak tercatat adanya gempa letusan maupun gempa guguran. Kondisi ini melanjutkan tren periode sebelumnya yang juga tidak mencatat kejadian erupsi.
Data deformasi hingga 15 Oktober 2026 juga belum menunjukkan indikasi inflasi atau peningkatan tekanan magmatik secara menyeluruh. Alat tiltmeter di Nurabelen menunjukkan pergerakan yang relatif stabil, sementara data Global Navigation Satellite System (GNSS) masih memperlihatkan perubahan horizontal yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. Kombinasi dari parameter kegempaan yang menurun dan belum adanya indikasi peningkatan tekanan magmatik secara konsisten, mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik saat ini relatif stabil.
Status Waspada dan Bahaya Banjir Lahar Hujan
Meskipun aktivitas menurun, status Gunung Lewotobi Laki-laki tetap berada pada Level II atau Waspada. Penetapan status ini bukan tanpa alasan. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memahami bahwa potensi bahaya sekunder, seperti banjir lahar hujan, masih mengintai.
Masyarakat dan wisatawan tetap diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius empat kilometer dari pusat erupsi. Zona aman ini diberlakukan untuk melindungi dari potensi lontaran material vulkanik dan gas berbahaya. Lebih lanjut, warga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ketika terjadi hujan deras. Sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-laki, terutama di wilayah Dulipali, Padang Pasir, dan Nobo, berpotensi dilalui aliran lahar hujan.
Sejarah Erupsi dan Peningkatan Status
Sejarah mencatat bahwa Gunung Lewotobi Laki-laki pernah mengalami peningkatan status ke level tertinggi, "AWAS," beberapa kali. Salah satunya adalah pada 3 November 2024, ketika aktivitas vulkanik mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Peningkatan status ini selalu disertai dengan imbauan untuk tidak memasuki area kawah dalam radius tertentu dan mewaspadai potensi banjir lahar hujan.
Pada 6 September 2025, status gunung ini kembali dinaikkan menjadi Awas karena peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan, ditandai dengan lonjakan gempa tremor harmonik dan gempa vulkanik dalam. Bahkan, pada 15 Oktober 2025, gunung ini kembali erupsi dan memuntahkan kolom abu setinggi 8 km, yang kembali menaikkan statusnya menjadi Awas.
Namun, seiring waktu, aktivitas gunung api ini menunjukkan pola penurunan. Pada 16 September 2026, status aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki diturunkan dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada). Penurunan status ini didasarkan pada pemantauan visual dan instrumental yang menunjukkan penurunan aktivitas vulkanik secara signifikan.
Meskipun status saat ini adalah Waspada, penting untuk diingat bahwa gunung api adalah entitas alam yang dinamis. Penurunan aktivitas adalah kabar baik, namun kewaspadaan terhadap potensi bahaya lanjutan, terutama banjir lahar hujan, harus tetap dijaga. Komunikasi yang baik antara pos pemantau, pemerintah daerah, dan masyarakat adalah kunci untuk mitigasi bencana yang efektif.
#Gunung Lewotobi Laki-laki #Aktivitas Vulkanik #Flores Timur