BUGALIMA - Kisruh jadwal pelaksanaan El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXV di Flores Timur kian memanas. Di satu sisi, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memutuskan untuk menunda turnamen akbar ini ke Maret 2027. Namun, di sisi lain, panitia pelaksana di Flores Timur, didukung penuh oleh Pemerintah Kabupaten Flores Timur, bersikukuh mempertahankan jadwal *kick-off* awal pada 14 November 2026. Keputusan PSSI NTT ini sontak menimbulkan kekecewaan mendalam bagi panitia, mengingat persiapan yang telah matang dan berbagai dampak ekonomi yang telah diantisipasi.
Penolakan tegas terhadap penundaan ini disampaikan langsung oleh Ketua Panitia Pelaksana ETMC XXXV, Laurensius Yitno Wada. Menurutnya, keputusan penundaan yang dikeluarkan PSSI NTT diambil tanpa koordinasi dan komunikasi resmi dengan Pemkab Flores Timur selaku tuan rumah. Ini adalah pukulan telak, mengingat persiapan untuk menyambut kontingen dari 25 klub peserta dari berbagai kabupaten/kota di NTT sudah berjalan lebih dari empat bulan. Peluncuran maskot, perancangan geladi bersih pembukaan dengan tari kolosal, hingga pembenahan dua stadion utama, yaitu Stadion Ile Mandiri di Larantuka dan Lapangan Gawerato di Desa Wailolong, Kecamatan Ile Mandiri, semua telah rampung.
| Sumber: Pixabay |
Akar Permasalahan: Penundaan Tanpa Koordinasi
Inti dari polemik ini adalah keputusan PSSI NTT untuk menunda ETMC XXXV dari November 2026 ke Maret 2027. Alasan yang dikemukakan adalah adanya perubahan regulasi Liga 4 musim kompetisi 2026/2027 yang sedang disiapkan PSSI Pusat. Namun, panitia pelaksana merasa keberatan karena penundaan ini dilakukan hanya tiga minggu menjelang *kick-off*, sebuah jeda waktu yang dinilai tidak adil bagi semua pihak yang telah berinvestasi. Laurensius Yitno Wada bahkan menyatakan bahwa PSSI NTT tidak mampu menunjukkan bukti regulasi baru tersebut secara konkret kepada panitia.
Dampak dari penundaan ini tidak hanya dirasakan oleh penyelenggara, tetapi juga oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Flores Timur. Ratusan lapak usaha telah disiapkan, dan masyarakat serta pelaku ekonomi telah berinvestasi waktu dan sumber daya untuk menyambut gelombang penonton dan suporter. Penundaan ini berpotensi membatalkan rencana ekonomi yang telah disusun, memutus rantai pendapatan yang diharapkan dari ajang olahraga terbesar di NTT ini. ETMC selalu menjadi magnet ekonomi, menggerakkan sektor kuliner, penjualan produk lokal, dan berbagai jasa lainnya.
Semangat Panitia dan Dukungan Lokal
Meskipun dihadapkan pada keputusan penundaan yang dinilai mendadak dan kurang koordinatif, semangat panitia di Flores Timur tidak surut. Mereka tetap memperjuangkan jadwal awal pada 14 November 2026. Dukungan dari klub-klub peserta juga menjadi salah satu alasan kuat bagi panitia untuk bertahan. Hampir seluruh perwakilan klub yang dihubungi menyatakan sepakat agar turnamen tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Para peserta telah mengeluarkan biaya dan sumber daya yang tidak sedikit untuk seleksi pemain, pemusatan latihan, hingga perekrutan.
Selain dukungan dari peserta, Pemkab Flores Timur juga solid berada di belakang panitia. Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, secara konsisten menunjukkan dukungannya, bahkan di tengah polemik ini, beliau juga menggaungkan semangat kebersamaan dalam acara lain seperti Festival Uto Wata II. Hal ini menunjukkan bahwa visi pembangunan daerah melalui potensi olahraga dan budaya terus digalakkan. Flores Timur sendiri memiliki sejarah panjang dalam sepak bola NTT, dan ETMC XXXV ini menjadi momen kembalinya turnamen ke daerah tersebut setelah 56 tahun lamanya. Stadion Ile Mandiri, salah satu venue utama, bahkan memiliki nilai historis dalam pembinaan sepak bola daerah.
Pertimbangan Jadwal Alternatif dan Kondisi Lokal
Panitia pelaksana tidak hanya menolak penundaan, tetapi juga menyuarakan kekhawatiran mengenai potensi bentrokan jadwal jika ETMC dipindahkan ke Maret 2027. Menurut Laurensius, jadwal pada bulan Maret berpotensi berbenturan dengan kondisi cuaca ekstrem di Flores Timur dan sejumlah agenda keagamaan besar. Hal ini tentu menjadi pertimbangan logistik dan teknis yang krusial bagi kelancaran sebuah turnamen besar.
Dari sisi kesiapan teknis dan sarana prasarana, panitia mengklaim persiapan sudah mencapai sekitar 80 persen. Dua stadion utama telah siap digunakan. Keputusan PSSI NTT yang terkesan mendadak ini tentu menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan komunikasi yang baik dalam organisasi olahraga. Panitia telah mengirimkan surat resmi kepada PSSI Pusat, Asprov PSSI NTT, hingga Penjabat Gubernur NTT sebagai bentuk keberatan.
Harapan untuk Kepastian dan Koordinasi
Pada akhirnya, polemik ini membutuhkan penyelesaian yang cepat dan transparan. Kepastian jadwal ETMC XXXV sangat dinanti oleh semua pihak, mulai dari panitia, peserta, pemerintah daerah, hingga masyarakat luas. Koordinasi yang lebih baik antara PSSI NTT, PSSI Pusat, dan panitia pelaksana di Flores Timur adalah kunci utama untuk memastikan turnamen sepak bola paling bergengsi di NTT ini dapat berjalan sukses dan memberikan manfaat maksimal bagi seluruh stakeholder.
Penolakan panitia terhadap penundaan ini menunjukkan komitmen kuat mereka untuk menyelenggarakan ETMC XXXV sesuai rencana awal. Dengan 25 klub yang siap bertanding dan persiapan yang sudah hampir rampung, Flores Timur optimis dapat menggelar ajang ini pada 14 November 2026. Semoga ada titik temu yang terbaik demi kemajuan sepak bola NTT.
Source: RRI.co.id
#ETMC XXXV #Flores Timur #PSSI NTT