BUGALIMA - Di tengah upaya gigih Kabupaten Flores Timur (Flotim) untuk menekan angka stunting yang masih berkisar 17 persen, Bupati Antonius Doni Dihen kembali menegaskan satu hal krusial: pentingnya gizi dan pola asuh pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Ini bukan sekadar slogan, melainkan fondasi utama yang akan menentukan kualitas generasi penerus bangsa. Penegasan ini disampaikan dalam momen peluncuran Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Hendrikus Fernandez Larantuka, pada Rabu, 21 Oktober 2026 lalu.
Periode 1.000 HPK, yang dimulai sejak pembuahan hingga anak berusia dua tahun, adalah masa keemasan yang tak tergantikan. Di fase inilah, otak, organ vital, dan sistem kekebalan anak berkembang pesat. Perkembangan otak mencapai 80% dari kapasitas dewasa, dan pertumbuhan fisik pun berjalan sangat cepat. Kualitas nutrisi dan pola asuh yang diberikan di masa ini akan membentuk kesehatan jangka panjang, termasuk mencegah berbagai penyakit kronis di kemudian hari. Gagal memenuhi kebutuhan gizi pada periode emas ini dapat berujung pada stunting, suatu kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan tinggi badan lebih pendek dari standar usia, akibat kekurangan gizi kronis.
| Sumber: Pixabay |
Bupati Antonius Doni Dihen menekankan bahwa intervensi gizi, seperti pemberian makanan bergizi, telur, dan susu, harus berjalan seiring dengan perbaikan pola pengasuhan di lingkungan keluarga. "Kita ingin memastikan bahwa menyongsong Indonesia Emas 2045, anak-anak Flores Timur tumbuh sehat, cerdas, dan unggul," ujarnya penuh semangat. Ini adalah visi besar yang membutuhkan aksi nyata dari semua pihak.
Program Genting yang diluncurkan adalah salah satu wujud konkret dari komitmen Pemkab Flotim. Program ini dirancang untuk memperkuat dukungan pemenuhan gizi bagi anak-anak yang mengalami stunting, sekaligus melibatkan peran serta masyarakat sebagai orang tua asuh. Pada peluncuran perdananya, 24 anak di Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga, telah menerima paket bantuan nutrisi. Ke depan, program ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak desa dengan angka stunting tinggi, berkat partisipasi aktif dari para orang tua asuh.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Flores Timur, Anselmus Yohanes Maryanto, menjelaskan bahwa program Genting tidak hanya berfokus pada pemberian nutrisi. Cakupannya meliputi edukasi gizi, perbaikan sanitasi, dan penyediaan air bersih. Ini menunjukkan pendekatan holistik yang penting untuk mengatasi akar masalah stunting.
Tak hanya itu, Bupati Anton juga mengajak masyarakat Desa Lamatutu, khususnya, untuk memanfaatkan potensi lokal guna mendukung ketahanan gizi keluarga. Potensi peternakan sapi di desa tersebut, misalnya, dapat menjadi sumber daya penting untuk menyediakan protein hewani yang sangat dibutuhkan, terutama untuk anak-anak dalam masa pertumbuhan kritis. Ini adalah strategi cerdas yang mengintegrasikan sumber daya lokal dengan program kesehatan masyarakat.
Stunting: Musuh Bersama yang Harus Diatasi
Angka stunting sebesar 17 persen di Flotim memang menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Namun, dengan penekanan kuat pada 1.000 HPK, Pemkab Flotim menunjukkan fokus yang tepat sasaran. Stunting bukan hanya masalah tinggi badan, tetapi juga mencerminkan kegagalan pemenuhan gizi dan kesehatan dalam jangka panjang, yang berdampak pada perkembangan kognitif dan produktivitas ekonomi di masa depan.
Pemerintah melalui berbagai program, termasuk yang digagas oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), juga memprioritaskan intervensi pada 1.000 HPK. Ini menegaskan bahwa periode emas ini adalah kunci utama untuk mencegah stunting dan memastikan generasi yang sehat.
Peran Keluarga dan Masyarakat: Kunci Keberhasilan
Keberhasilan program Genting dan upaya penurunan stunting di Flotim sangat bergantung pada komitmen dan partisipasi aktif dari keluarga dan masyarakat. Edukasi mengenai pentingnya ASI eksklusif, makanan pendamping ASI yang bergizi, kebersihan lingkungan, serta pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin adalah langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan oleh setiap keluarga. Mengganti pakaian jika kotor, membiasakan cuci tangan, menjaga kebersihan makanan dan minuman, serta memastikan rumah dan lingkungan sekitar bersih adalah contoh praktik baik yang sederhana namun berdampak besar.
Lebih dari sekadar memberikan makanan, menyusui bayi juga merupakan bentuk curahan kasih sayang ibu yang tak tergantikan. Perhatian pada nutrisi ibu hamil, seperti konsumsi asam folat, juga berperan penting dalam meminimalkan risiko kelainan pada bayi.
Dengan penekanan kuat pada gizi dan pola asuh di 1.000 Hari Pertama Kehidupan, Kabupaten Flores Timur tengah berinvestasi pada masa depan yang lebih cerah. Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait dapat menciptakan perubahan positif yang signifikan. Mari kita bergandengan tangan, memastikan setiap anak di Flotim tumbuh sehat, cerdas, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
Source: RRI.co.id
#Gizi 1000 HPK #Pencegahan Stunting #Flores Timur