BUGALIMA - Flores, sebuah pulau yang dijuluki "Nusa Bunga," ternyata menyimpan lebih dari sekadar keindahan alam yang memukau. Di balik hamparan bunga dan lanskap yang memanjakan mata, tersembunyi kisah tentang ketangguhan batu, metafora bagi perjuangan dan ketahanan masyarakatnya. Ini adalah narasi yang coba diungkap oleh "Camino de Flores," sebuah inisiatif wisata religi yang terinspirasi dari jejak ziarah legendaris Camino de Santiago di Spanyol. Namun, perjalanannya di Flores tidak hanya melulu tentang keindahan bunga, melainkan juga tentang kerasnya batu kehidupan yang harus dihadapi penduduknya, terutama pasca-gempa dahsyat yang melanda pulau ini pada pertengahan Agustus 2026.
Perjalanan sejauh 70 kilometer ini, yang pada awalnya dirancang untuk menyajikan pengalaman spiritual, keindahan alam, dan kekayaan budaya, ternyata juga membuka mata para pesertanya terhadap realitas yang lebih kelam. Uskup Agung Ende, Mgr Paulus Budi Kleden SVD, dengan bijak mengingatkan dalam misa penutupan bahwa Camino de Flores memberikan kesempatan untuk menatap keindahan Flores, namun sekaligus membuka mata tentang kesulitan yang dihadapi warganya. Analogi jalan berbunga yang diusung dalam wisata religi ini, ternyata beriringan dengan jalan yang terjal dan penuh tantangan, layaknya batu yang keras.
| Sumber: Pixabay |
Menyelami Makna Camino de Flores
Camino de Flores bukanlah sekadar acara jalan kaki biasa. Ia adalah sebuah ekowisata spiritual yang dirancang untuk menghubungkan peserta dengan esensi Pulau Flores. Inspirasinya datang dari Camino de Santiago, sebuah rute ziarah bersejarah yang membentang ribuan kilometer di Eropa. Namun, Camino de Flores memiliki kekhasan lokal yang kuat. Ia tidak hanya melintasi situs-situs religi, tetapi juga desa-desa wisata, lanskap alam yang mempesona, serta tradisi budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Mari Elka Pangestu, salah satu inisiator kegiatan ini, menjelaskan bahwa Camino de Flores bertujuan untuk memperkenalkan Flores melalui pengalaman perjalanan yang mendalam, yang memadukan spiritualitas, alam, budaya, dan interaksi langsung dengan masyarakat. Harapannya, kegiatan ini dapat menggalang dukungan bagi pembangunan Flores dan mendorong lebih banyak orang untuk mengenal berbagai wilayah di pulau ini.
Perjalanan perdana Camino de Flores yang mengambil etape tengah, melintasi Ngada, Nagekeo, hingga Ende, diikuti oleh sekitar 70 peserta dari berbagai komunitas. Mereka berjalan kaki sepanjang 70 kilometer, sebuah jarak yang cukup menantang namun sarat makna. Rencananya, akan ada dua etape lagi, yakni jalur barat yang melintasi Labuan Bajo–Ruteng dan jalur timur Maumere–Larantuka.
Lebih dari Sekadar Keindahan: Realitas Pascagempa
Di balik keelokan "Nusa Bunga," terselip cerita tentang "kerasnya batu." Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 meninggalkan luka mendalam. Bangunan rusak, infrastruktur hancur, dan kehidupan masyarakat terganggu. Beberapa gereja, yang seharusnya menjadi bagian dari rute ziarah, mengalami kerusakan parah. Gereja Santo Fransiskus Asisi Gako di Boawae, Nagekeo, misalnya, yang sempat menjalani renovasi, harus menanggung akibat gempa yang meruntuhkan plafon dan meretakkan temboknya.
Inisiator Camino de Flores menyadari betul tantangan ini. Mereka tidak hanya fokus pada aspek spiritual dan wisata, tetapi juga berupaya memberikan bantuan sosial bagi masyarakat yang terdampak gempa. Bantuan sekecil apa pun, ujar mereka, sangat berarti bagi pemulihan Flores.
Pengalaman peserta Camino de Flores menjadi bukti nyata dari dualitas ini. Mereka menyaksikan keindahan Gunung Inerie yang megah, menjelajahi Kampung Bena yang kaya akan tradisi, namun juga melihat langsung puing-puing bangunan yang hancur akibat gempa. Pengalaman ini tentu meninggalkan kesan mendalam, mengingatkan bahwa keindahan alam dan budaya Flores hadir di tengah perjuangan yang nyata.
Potensi dan Tantangan Pariwisata Flores
Camino de Flores menjadi momentum penting untuk mengangkat potensi pariwisata Flores yang selama ini mungkin terkonsentrasi di Labuan Bajo. Dengan menghubungkan berbagai situs religi, desa wisata, lanskap alam, dan tradisi budaya, program ini diharapkan dapat mendistribusikan kunjungan wisatawan secara lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di Flores.
Pengembangan pola wisata religi seperti ini memiliki potensi besar untuk memperluas persebaran wisatawan, mendorong mereka untuk tinggal lebih lama, serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal. Namun, untuk mencapai potensi tersebut, kolaborasi yang erat antara pemerintah pusat dan daerah, gereja, komunitas lokal, pelaku industri pariwisata, dan masyarakat sangatlah dibutuhkan. Kesiapan jalur perjalanan, kenyamanan dan keamanan peserta, serta keberlanjutan destinasi menjadi kunci utama.
Flores, dengan segala keindahan bunga dan ketangguhan batunya, menawarkan pengalaman yang unik bagi setiap pelancong. Camino de Flores hadir sebagai jembatan untuk memahami kedua sisi mata uang tersebut. Ini adalah perjalanan yang tidak hanya menyentuh jiwa, tetapi juga membuka mata terhadap realitas kehidupan, mengingatkan kita bahwa di setiap keindahan seringkali tersimpan cerita ketahanan yang luar biasa.
#Wisata Religi #Flores #Budaya Indonesia