BUGALIMA - Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang diuji. Tepatnya di Flores Timur. Angin kencang menerjang tanpa ampun. Cuaca ekstrem melanda wilayah itu sejak beberapa hari terakhir.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur berjibaku. Mereka terus bergerak di tengah situasi yang sulit. Pendataan kerusakan bangunan menjadi prioritas utama.
| Gambar dari Pixabay |
Laporan sementara sudah masuk ke meja petugas. Kecepatannya sungguh memprihatinkan. Hingga Sabtu sore lalu, setidaknya 16 rumah warga dilaporkan hancur.
Kerusakan di Ibu Kota Kabupaten
Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, adalah lokasi terdampak terparah. Belasan rumah itu tersebar di sana. Petugas menemukan fakta menyedihkan. Kebanyakan rumah hancur tertimpa pohon tumbang.
Angin berputar begitu kuat. Batang pohon besar pun tak kuasa menahan. Ia roboh, menimpa apa saja yang ada di bawahnya. Mikael Koli Kumanireng adalah salah satu korban.
Rumahnya di Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena, ambruk rata dengan tanah. Itu terjadi setelah pohon beringin besar menimpanya. Kejadiannya begitu cepat. Ia baru saja masuk rumah.
Istrinya sedang memasak di dapur. Ia sempat tertimbun reruntuhan bangunan. Untungnya, warga sekitar sigap menolong. Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.
Namun rumah Mikael rusak total. Tak bisa dihuni lagi. Inilah drama kemanusiaan yang sedang terjadi. Kehilangan tempat tinggal secepat kedipan mata.
Tanggap Darurat dan Gerak Cepat BPBD
Kepala BPBD Flores Timur, Fredric Moat Aeng, angkat bicara. Ia membenarkan timnya masih di lapangan. Mereka bekerja keras. Tujuannya mengumpulkan data secara menyeluruh.
Ini bukan hanya soal angka. Tapi juga tentang kehidupan warga. Fredric mengimbau kepala desa dan lurah. Mereka diminta aktif melaporkan setiap kerusakan.
Penyebab Kerusakan yang Beragam
Tidak semua kerusakan disebabkan pohon tumbang. Banyak rumah atapnya terangkat. Angin bertiup begitu kencang. Ia seperti tangan raksasa yang merobek.
Seng-seng berterbangan entah ke mana. Mereka meninggalkan lubang besar di atas kepala. Hujan deras sewaktu-waktu bisa datang. Ini menambah derita warga.
Di Desa Watowara, Kelurahan Ekasapta, dan Kelurahan Sarotari Tengah juga ada laporan. Kerusakan rumah tercatat di sana. Bahkan ada bangunan sekolah yang atapnya ikut terbongkar di Adonara Timur.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur tidak tinggal diam. Mereka sudah menetapkan status tanggap darurat bencana. Status ini berlaku sejak Desember 2025. Itu adalah langkah antisipasi.
Ini untuk mempercepat penanganan bencana hidrometeorologi. Curah hujan dan angin kencang memang terus meningkat. Status ini akan berlaku hingga April 2026.
Kisah Para Pengungsi
Warga yang kehilangan rumah, kini mengungsi. Mereka memilih tinggal di rumah kerabat. Ada juga yang menempati balai desa. Tempat-tempat itu dinilai lebih aman.
Mereka butuh uluran tangan. Bantuan logistik pasti sangat mendesak. BPBD juga menyiapkan bantuan material. Ada seng, usuk, dan paku. Bantuan akan disalurkan setelah verifikasi.
Tim teknis akan turun ke lokasi. Mereka akan memastikan tingkat kerusakannya. Ini penting agar bantuan tepat sasaran. Tidak ada yang terlewat.
Peringatan BMKG dan Kewaspadaan Tinggi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah mengeluarkan peringatan. Potensi cuaca ekstrem di NTT masih tinggi. Ini berlaku hingga pekan depan.
Masyarakat diimbau tetap waspada. Tidak perlu panik, tetapi harus siaga. Bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, mengintai.
Peringatan dini ini harus disikapi serius. Pohon-pohon rapuh harus segera ditebang. Saluran air mesti dibersihkan. Jangan sampai ada korban lagi.
Flores Timur sedang berjuang. Melawan alam yang sedang marah. BPBD dan pemerintah daerah adalah garda terdepan. Kita doakan semua cepat pulih. Mereka harus kembali kuat. Semangat gotong royong harus menyala.
Source: antaranews.com
#BPBDFloresTimur #AnginKencang #CuacaEkstrem