Indahnya Kerukunan: Umat Islam di Flores Timur Sambut Hangat Uskup Hans Monteiro

BUGALIMA - Pagi itu Flores Timur terasa berbeda. Suasana jalanan utama mendadak meriah. Ini bukan hari raya biasa. Ribuan orang tumpah ruah ke jalan. Mereka berbaris rapi menunggu sesuatu.

Mereka datang dari berbagai latar belakang. Yang menarik, komposisi kerumunan itu sangat majemuk. Umat Kristiani sudah pasti hadir menyambut pemimpinnya. Tapi yang paling mencuri perhatian adalah kehadiran umat Muslim.

Uskup Hans Monteiro akan tiba. Ia adalah pemimpin spiritual yang baru. Kehadirannya dinantikan oleh seluruh lapisan masyarakat. Penyambutan ini menjadi momen langka yang luar biasa. Ini bukan hanya urusan internal satu agama saja.

## Jembatan Toleransi di Timur

Ratusan umat Islam ikut menyambut. Mereka berdiri di barisan depan. Baju koko, peci, dan sarung mendominasi. Mereka membawa spanduk ucapan selamat. Wajah-wajah penuh senyum terlihat di mana-mana.

Mereka bukan sekadar penonton. Mereka adalah bagian integral dari pesta penyambutan. Sambutan ini menunjukkan tingginya toleransi. Kerukunan di Flores Timur bukan hanya wacana. Ia sudah menjadi urat nadi kehidupan.

Penyambutan ini adalah cerminan pengalaman bersama. Mereka hidup berdampingan sudah turun temurun. Para tokoh agama selalu bahu-membahu. Mereka memastikan Flores Timur selalu damai.

Uskup Hans Monteiro akhirnya melintas. Mobil yang membawanya berjalan sangat perlahan. Uskup terlihat terharu dengan sambutan ini. Ia berkali-kali melambaikan tangan. Matanya menyiratkan rasa terima kasih mendalam.

Dari barisan Muslim, terdengar salam hangat. Mereka mengucapkan selamat datang dengan tulus. Sambutan ini murni dari hati. Tidak ada paksaan dari pihak mana pun. Ini inisiatif spontan dari komunitas.

Para pemuda Muslim ikut menjaga ketertiban. Mereka membantu mengatur lalu lintas. Kehadiran mereka memberi rasa aman. Ini adalah contoh kredibilitas komunitas. Komitmen menjaga kedamaian sungguh nyata.

### Makna Kehadiran Seorang Pemimpin

Seorang pemimpin baru memang harus disambut. Apalagi jika pemimpin itu sangat dihormati. Uskup Hans Monteiro adalah sosok sentral. Kehadirannya akan membawa harapan baru. Harapan bagi semua warga Flores Timur.

Masyarakat percaya pada otoritas moralnya. Uskup diharapkan bisa mengayomi semua. Bukan hanya umat Kristiani saja. Tapi juga umat Muslim, dan semua warga yang ada di sana.

Sambutan lintas agama ini jadi penegasan. Bahwa pemimpin agama harus jadi jembatan. Jembatan yang menghubungkan semua perbedaan. Ia harus berdiri di atas semua golongan.

Sambutan hangat ini punya pesan penting. Pesan ini bukan hanya untuk Flores Timur. Tapi untuk seluruh Indonesia. Bahwa perbedaan adalah kekayaan. Kerukunan itu indah dan mungkin diwujudkan.

Bayangkan jika peristiwa ini terjadi di banyak tempat. Tentu bangsa ini akan semakin kuat. Tidak ada lagi energi terbuang sia-sia. Energi kita habis untuk urusan perdebatan tak perlu.

Flores Timur mengajarkan kita. Bahwa urusan agama adalah soal iman. Urusan hidup bertetangga adalah soal kemanusiaan. Dua hal ini tidak perlu dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan beriringan.

Para tokoh adat juga ikut berperan besar. Mereka menjaga tradisi toleransi tetap hidup. Adat istiadat menjadi benteng pertahanan. Benteng dari segala bentuk intoleransi. Kearifan lokal punya keahlian khusus.

Momen ini adalah pengalaman kolektif. Pengalaman tentang bagaimana menghargai orang lain. Bagaimana merayakan kedatangan seorang pemimpin. Meskipun pemimpin itu berbeda keyakinan. Ini adalah pelajaran yang sangat berharga.

Penyambutan Uskup Hans Monteiro sukses besar. Ini bukan hanya suksesnya sebuah acara. Tapi suksesnya sebuah peradaban. Peradaban yang menjunjung tinggi toleransi. Sebuah contoh nyata di ujung timur Indonesia.

Kita harus mengapresiasi kehangatan ini. Ini bukti bahwa Indonesia masih memiliki harapan. Harapan untuk hidup rukun dan damai. Harapan yang ditegakkan oleh keikhlasan hati. Semoga kerukunan ini terus abadi.

Source: detik.​com



#Kerukunanumatberagama #FloresTimur #UskupHansMonteiro

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama