BUGALIMA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur tidak mau kecolongan lagi. Mereka bergerak cepat. Upaya pencegahan banjir lanjutan di hunian sementara (huntara) Lewotobi kini menjadi fokus utama. Musim hujan datang, ancaman baru mengintai para pengungsi.
Mereka yang tinggal di huntara adalah korban bencana sebelumnya. Awan panas letusan Gunung Lewotobi Laki-laki meninggalkan trauma mendalam. Kini, masalah baru muncul: banjir bandang dari material vulkanik. Ini harus segera diatasi demi keselamatan semua.
| Gambar dari Pixabay |
Ancaman di Balik Hunian Sementara
Huntara adalah solusi sementara bagi warga yang kehilangan rumah. Lokasi-lokasi ini biasanya dipilih cepat, bukan selalu yang paling ideal. Posisinya sering berdekatan dengan jalur air atau lereng gunung. Itu yang membuat risiko banjir material vulkanik meningkat tajam.
Hujan deras adalah pemicu utamanya. Air mengalir membawa sisa-sisa abu dan pasir dari puncak gunung. Material-material ini menumpuk dan bisa menjadi lahar dingin yang merusak. BPBD sangat menyadari potensi bahaya tersebut. Mereka harus bekerja ekstra keras.
Kejadian banjir sebelumnya menjadi pelajaran berharga. Beberapa huntara sempat terendam air dan lumpur. Ini tentu mengganggu kenyamanan dan keamanan para pengungsi. Kini, fokusnya adalah memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali.
Strategi Mitigasi Cepat dan Tepat
Pencegahan dimulai dari pemetaan area risiko. Tim BPBD bersama ahli geologi meninjau langsung lokasi-lokasi huntara yang rawan. Mereka mengidentifikasi titik-titik sumbatan dan jalur air yang berbahaya. Keahlian ini sangat penting untuk mitigasi efektif.
Aksi lapangan yang dilakukan adalah membangun tanggul darurat. Ribuan karung berisi pasir atau tanah dipasang membentang. Karung-karung ini berfungsi sebagai penahan dan pengalih aliran air. Pekerjaan ini melibatkan banyak personel.
Saluran drainase di sekitar huntara juga diperbaiki. Saluran yang tersumbat atau dangkal segera dikeruk dan dilebarkan. Tujuannya adalah memperlancar laju air hujan. Air tidak boleh diam atau meluap ke area permukiman.
BPBD tidak bekerja sendirian. Mereka menggandeng relawan lokal dan juga warga pengungsi. Keterlibatan warga memberikan pengalaman praktis di lapangan. Mereka lebih tahu kondisi kontur tanah dan aliran air di area tempat tinggal mereka.
Ini adalah bentuk otoritas yang berbasis kolaborasi. Pemerintah daerah menyalurkan logistik dan alat berat. Warga memberikan tenaga dan pengetahuan lokal. Kombinasi ini memperkuat upaya pencegahan.
Kesiapan Hadapi Musim Hujan
Musim hujan adalah tantangan tahunan yang datang tanpa kompromi. BPBD Flores Timur menyiagakan personel 24 jam penuh. Mereka harus siap bertindak kapan saja jika terjadi hujan ekstrem. Tim siaga ini memiliki kredibilitas yang tinggi dalam penanganan bencana.
Persiapan bukan hanya fisik, tapi juga sosialisasi. Warga huntara diberikan pelatihan tanggap darurat. Mereka diajarkan bagaimana mengenali tanda-tanda banjir bandang. Mereka juga tahu jalur evakuasi yang aman.
Langkah ini menciptakan rasa aman dan kesiapan mental. Warga tidak lagi panik saat mendengar suara gemuruh air. Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan. Edukasi adalah kunci dalam setiap penanggulangan bencana.
Pemerintah juga sedang memikirkan solusi jangka panjang. Huntara memang hanya solusi sementara. Pembangunan rumah permanen yang aman sedang diproses. Lokasi relokasi harus dipastikan benar-benar bebas dari ancaman bencana.
Kepala BPBD setempat memastikan semua upaya telah dimaksimalkan. Alat berat seperti ekskavator disiagakan di beberapa titik strategis. Tujuannya untuk mempercepat penanganan material jika banjir lahar dingin benar-benar terjadi. Semua demi melindungi jiwa.
Pencegahan adalah investasi terbaik dalam penanggulangan bencana. BPBD Flores Timur membuktikannya. Mereka belajar dari pengalaman buruk di masa lalu. Mereka bekerja keras hari ini untuk menjamin keselamatan warga esok hari. Ini adalah narasi perjuangan kemanusiaan di kaki gunung berapi.
Source: antaranews.com
#BanjirLewotobi #BPBDFloresTimur #Huntara