BUGALIMA - Hujan turun lagi di Flores Timur. Itu bukan sekadar rintik-rintik. Itu hujan lebat yang membawa ancaman berulang. Ancaman nyata bagi para penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
Mereka tinggal di Huntara Konga, Desa Konga. Sebuah hunian sementara yang seharusnya menjadi tempat berlindung. Namun, tempat itu kini menjelma perangkap air dan lumpur. Banjir kembali datang.
| Gambar dari Pixabay |
Ironi di Bawah Kaki Lewotobi
Air bah masuk ke dalam unit-unit hunian. Kopel-kopel terendam, lumpur menggenang. Sedikitnya 22 Kepala Keluarga (KK) terpaksa mengungsi lagi. Mereka lari ke rumah tetangga yang dianggap lebih aman.
Peristiwa ini terjadi lagi pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari, 31 Januari 2026. Intensitas hujan sangat tinggi. Ini bukan yang pertama. Banjir seolah menjadi siklus rutin di lokasi itu.
Warga mulai panik. Mereka merasa putus asa dengan kondisi yang berulang. Mereka adalah korban bencana ganda. Pertama, erupsi gunung. Kedua, buruknya penanganan pascabencana.
Kegagalan Teknis dan Lahan Tumpangan
Mengapa ini terus terjadi? Persoalan utamanya ada pada lokasi dan konstruksi. Huntara III dan IV itu dibangun di lahan tumpangan. Lahan yang labil dan rentan longsor.
Kepala Desa Konga Aloysius Sinyo Kung sudah menjelaskan hal ini. Hunian dibangun tanpa penahan tanah memadai. Tidak ada drainase permanen yang berfungsi. Warga hanya membuat penahan seadanya dari kayu. Tentu itu tidak mampu menahan tekanan air dan lumpur saat hujan deras.
Banjir membawa serta lumpur dari tanah tumpangan yang longsor. Air dan lumpur masuk menggenangi rumah. Kondisi ini membuat para penyintas kembali diliputi kecemasan.
Bupati Buka Suara
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur tidak diam. Bupati Antonius Doni Dihen mengakui adanya masalah serius. Dia menyebut ada persoalan teknis pada pembangunan huntara.
"Untuk pembentukan jalur air, memang parah sekali kondisinya," kata Bupati. Medannya berat, katanya. Metode cut and fill yang digunakan dalam pembangunan memperparah kondisi. Itu diakuinya.
Anggaran Tersedia, Aksi Tertunda
Doni Dihen juga memastikan ada anggaran untuk penanganan bencana ini. Anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) sebesar Rp6,6 miliar masih tersedia. "Secara anggaran, kita bisa bergerak," ujarnya kala itu.
Namun, ucapan itu terasa ironis bagi warga. Anggaran tersedia, tetapi banjir terus berulang. Warga merasa pengakuan tersebut belum menjadi tindakan nyata. Banjir tetap menjadi tamu rutin.
Pemkab Flores Timur memang sempat bergerak. Mereka mengklaim telah membuat saluran darurat pengendali banjir. Saluran itu hanya berupa galian biasa. Itu hanya solusi sementara.
Kalak BPBD Flores Timur, Fredy Moat Aeng, juga turun tangan. Tim PUPR dan BPBD mendata kerusakan. Tujuannya untuk menyusun kebutuhan perbaikan. Prioritasnya adalah penataan jalur air.
Intinya, mereka mengejar waktu. Ancaman bencana terus mengintai. Itu kata Fredy. Namun, warga melihat pergerakan itu terasa lambat.
Peristiwa banjir terbaru ini membuktikan janji perbaikan belum tuntas. Warga di Huntara III dan IV terus membersihkan lumpur sendiri. Setiap kali hujan datang, mereka harus melakukan rutinitas yang sama.
Harapan Tinggal Harapan
Kondisi ini membuat warga merasa putus asa. Beberapa penyintas bahkan ingin kembali ke kampung halaman. Mereka ingin pulang kampung meski ancaman erupsi masih ada. Mereka bingung harus memilih antara bencana gunung atau bencana banjir di huntara.
Kebutuhan akan Hunian Tetap (Huntap) menjadi mendesak. Pembicaraan tentang relokasi sudah ada. Ada tiga lokasi yang direncanakan, termasuk di Noboleto. Namun, hingga kini, kepastian pembangunan Huntap masih jadi pertanyaan besar.
Warga hanya bisa berharap. Mereka menagih kehadiran negara dalam bentuk aksi nyata. Bukan sekadar janji di atas kertas. Bukan cuma klaim anggaran miliaran yang mengendap.
Mereka butuh tempat tinggal yang layak. Mereka butuh rasa aman. Huntara yang dibangun dengan niat baik justru membawa penderitaan baru. Kisah penyintas Lewotobi adalah cerminan kegagalan perencanaan bencana yang seharusnya jadi pelajaran penting. Pemerintah harus segera bertindak, sebelum tragedi ini terulang lagi.
Source: detik.com
#BanjirLewotobi #HuntaraFloresTimur #BTTBencana