BUGALIMA - Senyum masyarakat Flores Timur kembali dirundung awan kelabu. Kali ini, bukan erupsi gunung berapi yang menjadi momok, melainkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar. Warga di Pulau Adonara dan Solor, Kabupaten Flores Timur, kini merasakan getirnya antrean panjang dan ketidakpastian pasokan. Penyebabnya? Masalah klasik yang berulang: terblokirnya Barcode pada sistem Microsite Pertamina.
Kejadian ini bukan sekadar masalah teknis belaka. Dampaknya terasa langsung ke denyut nadi perekonomian dan aktivitas sehari-hari warga. Bayangkan, di pulau-pulau yang memiliki keterbatasan akses transportasi dan infrastruktur, BBM adalah urat nadi kehidupan. Tanpa BBM, roda perekonomian akan macet, aktivitas masyarakat terhenti, dan harapan untuk bangkit dari kesulitan semakin menipis.
Akar Masalah: Blokade Barcode dan Sistem Microsite
Masalah utama bermula dari terblokirnya Barcode pada sistem Microsite Pertamina. Sistem ini seharusnya mempermudah penyaluran BBM bersubsidi kepada 14 sub-distributor di Flores Timur. Namun, entah mengapa, sejak akhir Februari hingga pertengahan Maret 2026, sistem ini mandek. Pemindaian barcode yang krusial untuk transaksi BBM bersubsidi tidak dapat dilakukan. Akibatnya, suplai BBM tersendat, bahkan terhenti sama sekali di beberapa wilayah.
Sub-penyalur BBM subsidi asal Pulau Solor, Lut Daton, mengungkapkan kekecewaannya. "Kami ingin tahu kendalanya jika pihak Pertamina tidak mengizinkan lagi dengan adanya sub penyalur, maka harus dijelaskan agar sub penyalur tidak lagi dipakai," ujarnya, menyiratkan kebingungan dan frustrasi atas ketidakjelasan kebijakan. Ia menambahkan bahwa wilayah distribusi sub penyalur Solor mencakup tiga kecamatan yang tidak memiliki SPBU. "Masyarakat yang ada di desa pedalaman juga punya hak untuk menikmati BBM bersubsidi," tegasnya. Hal senada diungkapkan oleh perwakilan masyarakat Adonara, yang memiliki delapan kecamatan namun hanya dua unit SPBU.
Upaya Pertamina dan Koordinasi dengan BPH Migas
Menanggapi keluhan yang semakin meluas, Pertamina Patra Niaga tidak tinggal diam. Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi, menyatakan bahwa pihaknya tengah berupaya keras mengatasi kendala ini. "Kami sedang melakukan penyesuaian sistem untuk meningkatkan kualitas layanan," jelasnya. Koordinasi intensif pun dilakukan dengan BPH Migas untuk mempercepat proses migrasi sistem dari aplikasi Microsite ke aplikasi X-Star. Tujuannya jelas, agar masyarakat dapat kembali menikmati layanan distribusi BBM tanpa hambatan.
Kepala Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Setda Flores Timur, Tarsisius Kopong, membenarkan adanya kendala tersebut. "Pelayanan masih terkendala karena aplikasi Microsite milik Pertamina belum bisa diakses (QR barcode)," ungkapnya. Namun, ia juga memberikan secercah harapan, "Hasil koordinasi dengan BPH MIGAS telah memerintahkan segera membuka blokir dan mengaktifkan kembali aplikasi Microsite untuk sub penyalur."
Dampak Langsung ke Masyarakat
Kelangkaan BBM ini bukan sekadar berita di media. Bagi masyarakat Flores Timur, ini adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi setiap hari. Di Pulau Adonara dan Solor, ketiadaan BBM bersubsidi memaksa warga untuk mencari alternatif lain, yang seringkali jauh lebih mahal dan sulit dijangkau.
#### Keterbatasan Akses di Daerah Terpencil
Wilayah seperti Adonara dan Solor memiliki karakteristik geografis yang unik. Dengan hanya dua SPBU di delapan kecamatan di Adonara, dan tidak adanya SPBU di tiga kecamatan yang dilayani sub penyalur Solor, akses terhadap BBM bersubsidi menjadi sangat terbatas. Masyarakat di pedalaman, yang notabene paling membutuhkan, justru paling sulit mendapatkannya.
#### Ancaman terhadap Perekonomian Lokal
Macetnya distribusi BBM secara langsung mengancam aktivitas ekonomi lokal. Mulai dari petani yang membutuhkan solar untuk mesin pertanian, nelayan yang bergantung pada BBM untuk melaut, hingga para pedagang yang membutuhkan transportasi untuk mendistribusikan barang dagangan. Jika BBM langka, semua aktivitas ini akan terhenti, menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.
Harapan dan Langkah ke Depan
Meskipun masalah ini kompleks, koordinasi antara Pertamina Patra Niaga dan BPH Migas menjadi kunci utama penyelesaian. Keputusan BPH Migas untuk segera membuka blokir dan mengaktifkan kembali aplikasi Microsite memberikan angin segar.
Namun, persoalan ini juga menuntut Pertamina untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap sistem distribusi mereka. Terutama di daerah-daerah dengan karakteristik geografis yang menantang seperti Flores Timur. Perlu ada solusi jangka panjang yang memastikan ketersediaan BBM bersubsidi bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya mereka yang tinggal di dekat SPBU.
Pengalaman kelangkaan BBM akibat masalah teknis seperti ini seharusnya menjadi pelajaran berharga. Diharapkan, setelah masalah barcode ini teratasi, Pertamina dapat bergerak cepat untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan memastikan kelancaran distribusi BBM di Flores Timur. Karena bagaimanapun, BBM adalah kebutuhan pokok yang menopang kehidupan.
Source: Tribunflores.com
#BBM #FloresTimur #Pertamina