BUGALIMA - Di tengah amukan Gunung Lewotobi yang tak kenal ampun, ada satu kisah yang menghangatkan hati, kisah tentang Sertu Yohanes Bada Puka. Seorang prajurit yang tak gentar menghadapi bencana, bahkan saat keluarganya sendiri turut menjadi korban. Kisah ini bukan hanya tentang ketangguhan, tetapi juga tentang pengabdian tanpa batas yang patut kita renungkan.
Pada Jumat pagi yang kelam, 13 Maret 2026, pesan WhatsApp dari Sertu Yohanes Bada Puka sampai ke redaksi. Bukan ucapan selamat pagi seperti biasa, melainkan video yang menyayat hati. Dalam video itu, tampak ia, istri, dan anaknya terjebak dalam kepungan banjir lahar dingin Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Situasi genting tersebut tidak sedikitpun goyah kan semangat juangnya.
"Sebagai seorang prajurit tentu pengabdian kepada negara, apalagi di saat bencana adalah tugas yang harus dijalankan," tuturnya dengan nada tegar, meski tergenang air. Ucapan itu menjadi bukti nyata, bahwa panggilan tugas lebih tinggi dari segalanya.
Hidup Bersisian dengan Bencana yang Berulang
Flores Timur, khususnya wilayah sekitar Gunung Lewotobi, seolah tak pernah lepas dari ancaman bencana. Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, yang telah berulang kali terjadi, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya. Sejak November 2024, letusan dahsyat gunung setinggi 1.584 meter ini telah menyebabkan ribuan orang mengungsi, merusak ratusan rumah, dan merenggut nyawa. Data mencatat sedikitnya 10 korban tewas dan 63 luka-luka akibat erupsi. Ribuan rumah rusak, dan lebih dari 12.000 jiwa terpaksa meninggalkan kediaman mereka. Status gunung yang kerap disimbolkan sebagai "tempat leluhur" oleh masyarakat setempat ini, seringkali berada pada level IV atau "Awas".
#### Erupsi yang Tak Kenal Lelah
Gunung Lewotobi Laki-laki memang dikenal lebih aktif dibandingkan kembarnya, Gunung Lewotobi Perempuan. Sejarah mencatat berbagai erupsi dahsyat, termasuk pada November 2024 yang menewaskan 10 orang dan melukai 63 lainnya. Erupsi susulan terus terjadi, seperti pada Juni 2025 dengan kolom abu setinggi 10.000 meter, dan bahkan pada Juli 2025 dengan ketinggian kolom abu mencapai 18 kilometer. Hingga Agustus 2025, erupsi masih tercatat dengan rata-rata tinggi kolom abu vulkanik mencapai 1,3 kilometer. Situasi ini memaksa pemerintah menetapkan status tanggap darurat dan membangun hunian sementara (huntara) bagi para pengungsi.
Pengabdian Sertu Yohanes di Tengah Keterbatasan
Di tengah kondisi yang sulit, Sertu Yohanes tidak pernah berpikir untuk mundur dari tugasnya. Ia sadar betul bahwa pengabdian sebagai prajurit TNI AD adalah sebuah sumpah dan tanggung jawab. Meski keluarganya sendiri terdampak bencana, ia tetap menjalankan perannya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.
Banjir lahar dingin yang menerjang, seperti yang terekam dalam video WhatsApp-nya, hanyalah salah satu dari banyak tantangan yang dihadapi Sertu Yohanes dan rekan-rekannya. Mereka harus berhadapan dengan material vulkanik yang menyumbat sungai, ancaman longsor, serta kondisi geografis yang sulit. Namun, semangat juang mereka tak pernah padam.
#### Membangun Kembali Harapan
Kisah Sertu Yohanes ini menjadi pengingat akan semangat para pejuang kemanusiaan yang tak kenal lelah. Di tengah bencana yang terus berulang, mereka hadir sebagai pilar kekuatan, memberikan perlindungan dan harapan bagi masyarakat yang terdampak. Perjuangan mereka patut diapresiasi dan menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berbuat baik dan saling membantu.
Meskipun telah hampir setahun para penyintas menetap di hunian sementara yang kian rusak, semangat untuk membangun kembali kehidupan terus membara. Kisah Sertu Yohanes adalah secercah cahaya di tengah kegelapan, bukti bahwa harapan selalu ada, bahkan di situasi terburuk sekalipun.
Source: kompas.com
#SertuYohanes #ErupsiLewotobi #PengabdianPrajurit