BUGALIMA - Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, seolah tak pernah luput dari cerita kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Sejak awal Maret 2026 lalu, kondisi ini kembali menghantui masyarakat di sana. Bukan sekadar antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), harga eceran BBM pun meroket gila-gilaan, menembus angka Rp30.000 per botol. Angka yang fantastis untuk ukuran BBM, bukan?
Kelangkaan ini, menurut laporan yang beredar, telah berlangsung selama dua pekan terakhir. Pemicunya bukan karena ada penimbunan oleh oknum tak bertanggung jawab, meskipun isu itu selalu ada. Kali ini, masalahnya lebih kompleks, bersumber dari terganggunya sistem distribusi BBM bersubsidi di tingkat sub penyalur.
| Gambar dari Pixabay |
Akar Masalah: Gangguan Sistem Digital
Sebenarnya, apa yang membuat penyaluran BBM ini tersendat? Ternyata, masalahnya terletak pada sistem digital. Pemblokiran barcode regional pada aplikasi microsite Pertamina menjadi biang keladi utamanya. Sistem ini, yang seharusnya mempermudah dan mempercepat distribusi, justru menjadi batu sandungan. Ketika sistem ini bermasalah, penyaluran di lapangan ikut terpengaruh, dan dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat dalam bentuk kelangkaan dan lonjakan harga.
Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengakui adanya kendala ini. Melalui pernyataan resminya, ia menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. "Kami menyampaikan terima kasih atas perhatian dan masukan dari konsumen terkait kendala yang terjadi di lembaga sub penyalur, serta memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan," ujar Ahad pada Rabu, 18 Maret 2026. Permohonan maaf ini tentu penting, namun yang lebih dibutuhkan masyarakat adalah solusi nyata.
#### Upaya Perbaikan Sistem
Pertamina tidak tinggal diam. Perusahaan pelat merah ini tengah melakukan penyesuaian sistem. Peralihan dari aplikasi microsite ke aplikasi X-Star menjadi langkah strategis yang diambil. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kualitas layanan distribusi BBM agar lebih efektif dan terintegrasi. Proses penyesuaian ini masih terus berjalan, dan Pertamina berkoordinasi intensif dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk mempercepat penyelesaiannya.
"Kami berkomitmen untuk memastikan masyarakat tetap dapat menikmati layanan distribusi BBM secara optimal dalam mendukung aktivitas sehari-hari," kata Ahad, meyakinkan. Pernyataan ini penting, namun masyarakat di Flores Timur tentu berharap janji tersebut segera terwujud.
Dampak Luas Kelangkaan BBM
Lonjakan harga BBM hingga Rp30.000 per botol bukan sekadar angka. Ini adalah pukulan telak bagi perekonomian masyarakat Flores Timur. Sektor transportasi jelas terganggu. Biaya operasional kendaraan meningkat drastis, membuat harga barang-barang kebutuhan pokok pun ikut merangkak naik. Distribusi barang menjadi lebih mahal, dan aktivitas ekonomi masyarakat secara keseluruhan terhambat.
Pemerintah dan Pertamina perlu segera mencari solusi permanen agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Ketergantungan pada sistem digital dalam distribusi energi memang tak terhindarkan di era modern ini, namun ketahanan sistem dan skenario darurat harus selalu menjadi prioritas utama. Jangan sampai kelangkaan BBM ini menjadi cerita berulang yang terus membebani masyarakat di wilayah kepulauan seperti Flores Timur.
* Source: money.kompas.com
#BBMLangka #FloresTimur #HargaBBM