BUGALIMA - Kabar duka kembali menyelimuti wilayah Nusa Tenggara Timur. Flores Timur, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Flores, disergap tragedi yang sangat personal. Bukan bencana alam yang datang, melainkan kabar tewasnya seorang siswi SMA. Ia ditemukan tak bernyawa setelah mengakhiri hidupnya sendiri.
Gadis remaja itu memilih jalan tragis: gantung diri. Peristiwa ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, terutama keluarga dan rekan sekolah. Orang-orang bertanya-tanya, apa yang mendorongnya melakukan hal sekejam itu pada dirinya sendiri? Dunia remajanya tiba-tiba terhenti secara paksa.
| Gambar dari Pixabay |
Penyelidikan polisi setempat langsung bergerak cepat. Namun, petunjuk paling mendalam justru datang dari pihak keluarga. Mereka mengungkap sebuah fakta pilu tentang perilaku korban belakangan ini. Siswi tersebut ternyata sering menyendiri, menarik diri dari interaksi sosial.
Kesunyian itu, menurut penuturan mereka, sudah berlangsung cukup lama. Ia tampak menyimpan beban berat yang enggan ia bagi. Keluarga mengakui korban lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar. Menyendiri menjadi sinyal bahaya yang sayangnya baru disadari ketika semua sudah terlambat.
Mengapa Kesunyian Itu Mematikan?
Kasus ini bukanlah sekadar catatan kriminal biasa di kepolisian. Ini adalah cermin retak dari krisis kesehatan mental yang mengintai remaja. Siswi SMA, di usia puncak pencarian jati diri, menghadapi tekanan yang luar biasa. Tuntutan akademik, perundungan siber, dan ekspektasi sosial seringkali bercampur menjadi satu.
Dunia SMA seharusnya menjadi panggung untuk menari, bukan ruang sempit untuk meratapi nasib. Namun bagi banyak remaja, ia berubah menjadi medan perang psikologis yang sunyi. Mereka takut berbicara, takut dihakimi, dan takut dianggap lemah. Menyendiri kemudian dianggap sebagai satu-satunya pelarian.
Kondisi ini diperburuk dengan minimnya akses terhadap layanan profesional. Di wilayah terpencil seperti Flores Timur, kesehatan mental seringkali menjadi isu mewah. Fasilitas konseling dan psikolog sangat terbatas ketersediaannya. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah setempat.
Mekanisme pertahanan diri yang keliru inilah yang patut kita soroti. Saat dukungan dari orang terdekat tidak tersedia, depresi bisa menjadi jurang yang gelap. Remaja perlu tahu bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Itu justru bentuk keberanian yang harus dihargai.
Sekolah dan Tanggung Jawab Lingkungan
Pertanyaan besar kemudian diarahkan pada sistem pendidikan. Sejauh mana peran sekolah dalam mendeteksi perubahan perilaku siswa? Pendidikan bukan hanya soal nilai rapor dan kelulusan ujian. Sekolah wajib menjadi ruang aman bagi setiap murid.
Para guru harus memiliki keahlian dan kepekaan dalam membaca kode non-verbal. Perubahan drastis pada pola tidur, nafsu makan, atau semangat belajar adalah sinyal SOS. Program pendampingan psikologis harus diwajibkan di setiap jenjang sekolah. Bukan sekadar program tempelan, tapi integrasi kurikulum yang serius.
Orang tua juga memikul beban tanggung jawab yang sama beratnya. Komunikasi terbuka di rumah adalah benteng pertahanan pertama. Anak harus merasa nyaman bercerita tentang kegagalan atau kekhawatiran mereka. Jangan biarkan anak memilih dinding kamar sebagai satu-satunya teman curhat.
Kita harus mengakui bahwa pola asuh di era digital kini jauh lebih rumit. Remaja terpapar informasi, perbandingan, dan tekanan tak terlihat dari media sosial. Itu semua menambah tumpukan beban psikologis yang bisa kapan saja meledak.
Fenomena Gunung Es Kesehatan Mental Remaja
Tragedi di Flores Timur ini hanyalah puncak gunung es dari masalah yang jauh lebih besar. Di balik senyum di foto-foto media sosial, banyak remaja menangis dalam diam. Stigma terhadap masalah kejiwaan harus segera dihilangkan. Itu kunci untuk membuka pintu pertolongan.
Kesehatan mental adalah bagian integral dari kesehatan fisik. Ia membutuhkan perhatian dan penanganan yang sama seriusnya. Program sosialisasi dan edukasi harus masif, menjangkau hingga pelosok desa. Jangan sampai masyarakat menganggap masalah ini sekadar 'kurang iman'.
Pemerintah provinsi NTT harus menjadikan isu ini sebagai prioritas utama pembangunan. Alokasi dana untuk pelatihan konselor sekolah dan penyediaan fasilitas harus ditambah. Kasus-kasus seperti ini harus menjadi peringatan keras.
Satu nyawa remaja yang hilang adalah kegagalan kolektif. Kita semua, sebagai orang tua, guru, tetangga, dan anggota komunitas, bertanggung jawab. Mari kita ciptakan lingkungan yang mendukung, agar tidak ada lagi siswi yang memilih kesunyian sebagai jalan terakhir. Perhatikanlah, dengarkanlah, dan bertindaklah sebelum semuanya terlambat.
Source: liputan6.com
#KesehatanMentalRemaja #BunuhDiriSiswi #FloresTimurNTT