Rekonsiliasi Damai Flores Timur: Polda NTT Apresiasi Warga Postoh-Amagarapati Bersatu Lewat Kearifan Lokal!

BUGALIMA - Damai itu mahal, lebih mahal dari emas permata. Pepatah lama ini kembali terbukti di bumi Flores Timur, Nusa Tenggara Tenggara. Sebuah rekonsiliasi adat yang berhasil digelar antara warga Postoh dan Amagarapati menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal masih menjadi perekat sosial yang ampuh. Polda NTT pun tak sungkan memberikan apresiasi tinggi atas komitmen masyarakat kedua wilayah untuk menjaga kedamaian. Ini bukan sekadar berita biasa, ini adalah kisah tentang bagaimana akar budaya mampu meredam gejolak, menyatukan perbedaan, dan membangun kembali harmoni.

Kisah Rekonsiliasi yang Mengharukan

Nokia Phone
Gambar dari Pixabay

Konflik memang tak pernah pandang bulu. Di mana ada perbedaan, di situ potensi gesekan bisa muncul. Flores Timur, dengan segala keindahannya, tak luput dari dinamika sosial yang terkadang memanas. Perseteruan antara warga Postoh dan Amagarapati, yang kabarnya telah berlangsung cukup lama, akhirnya menemukan titik terang. Bukan melalui jalan kekerasan yang justru akan menambah luka, melainkan melalui ritual adat yang khidmat.

Sumpah Adat dan Kekuatan Leluhur

Polda NTT, melalui berbagai pemberitaannya di Tribrata News, kerap menyoroti upaya-upaya perdamaian yang dilakukan masyarakat. Dalam kasus Postoh-Amagarapati ini, sebuah langkah strategis diambil dengan kembali menghidupkan mekanisme adat. Opsi sumpah adat, yang ternyata pernah dilakukan pada tahun 2016, kembali menjadi perhatian. Kali ini, sumpah adat internal dan kolektif diharapkan menjadi penutup pertikaian yang berkelanjutan.

Ritual adat bersih kampung yang digelar di Amagarapati pada Februari 2026 menjadi momen penting. Acara ini dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Flores Timur, termasuk Bupati, Ketua DPRD, Kapolres, dan Dandim. Kehadiran para petinggi daerah ini menunjukkan betapa pentingnya rekonsiliasi ini bagi stabilitas Flores Timur.

Peran Polda NTT dan Aparat Keamanan

Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) memang tak bisa dipandang sebelah mata dalam urusan menjaga kamtibmas. Melalui Tribrata News, mereka secara aktif memberitakan berbagai upaya pencegahan konflik dan apresiasi terhadap masyarakat yang berupaya menciptakan kedamaian.

Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, S.I.K., melalui Kasi Humas Eliezer A. Kalelado, S.H., secara tegas mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan mengedepankan musyawarah. "Kami mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi kamtibmas tetap aman dan kondusif. Hindari tindakan kekerasan maupun aksi saling balas yang dapat merugikan semua pihak," ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan komitmen Polri untuk tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga membimbing masyarakat menuju penyelesaian konflik yang damai dan konstruktif.

Langkah Konkret Pasca-Konflik

Pasca keributan yang sempat terjadi, pemerintah kelurahan Amagarapati tidak tinggal diam. Sebuah pertemuan digelar bersama tokoh masyarakat, adat, agama, pemuda, dan para orang tua. Hasil rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Flores Timur pun disampaikan, yang menghasilkan langkah strategis untuk mencegah konflik lanjutan.

Beberapa langkah konkret yang disepakati antara lain: * Pendirian Pos Terpadu Kamtibmas. * Pembentukan dan pengukuhan Pengamanan Masyarakat Swakarsa (Pamswakarsa). * Pelaksanaan pendidikan bela negara. * Pemberlakuan Jam Kamtibmas. * Penegakan hukum yang terukur bagi pelanggar.

Kesepakatan ini, yang ditutup dengan penandatanganan Surat Pernyataan Komitmen, menunjukkan kedewasaan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan dan menjaga kamtibmas agar keributan serupa tidak terulang. Polres Flores Timur pun mengapresiasi kesepakatan ini sebagai bentuk kedewasaan masyarakat.

Kearifan Lokal: Solusi Jangka Panjang

Pentingnya peran tokoh adat, tokoh agama, dan orang tua dalam membina anak-anak dan remaja agar tidak terlibat dalam konflik juga ditekankan. Ini menunjukkan bahwa penyelesaian konflik tidak hanya berhenti pada aspek keamanan, tetapi juga menyentuh akar sosial dan budaya. Pendidikan bela negara dan penerapan jam kamtibmas adalah contoh pendekatan yang menggabungkan unsur kedisiplinan dan kearifan lokal.

Dengan adanya sinergi antara pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan aparat kepolisian, diharapkan konflik yang terjadi dapat segera diselesaikan secara damai. Kehidupan masyarakat di wilayah Adonara Timur, dan secara lebih luas di Flores Timur, dapat kembali berjalan dengan aman dan harmonis. Kisah rekonsiliasi Postoh-Amagarapati ini menjadi pengingat berharga bahwa di tengah modernisasi, akar budaya dan nilai-nilai leluhur tetap memegang peranan penting dalam menjaga keutuhan bangsa.

Source: www.tribratanews.polri.go.id/region/ntt/polres-flotim-apresiasi-langkah-kepala-desa-adonara-timur-cari-solusi-damai-konflik-narasaosina-bele/20260316143228



#RekonsiliasiAdatFloresTimur #PoldaNTT #KearifanLokal

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama