Perpaduan Harmonis Agama dan Budaya Pascapaskah di Lewolaga, Flores Timur: Warisan Tradisi yang Mengakar

BUGALIMA - Di ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, terhampar sebuah permata budaya bernama Kampung Lewolaga. Di sini, perayaan Paskah bukan sekadar ritual keagamaan semata, melainkan sebuah perayaan akbar yang memadukan kedalaman iman dengan kekayaan kearifan lokal. Tradisi pascapaskah di Lewolaga adalah cerminan sempurna dari bagaimana dua elemen yang seringkali dianggap terpisah—agama dan budaya—justru dapat bersinergi menciptakan harmoni yang memukau. Ini adalah kisah tentang bagaimana masyarakat Lewolaga melestarikan warisan leluhur, menjaga keseimbangan antara nilai-nilai spiritualitas Katolik yang kuat dengan adat istiadat yang telah mengakar berabad-abad lamanya.

Warisan Leluhur yang Terus Hidup

Sumber: Pixabay

Kampung Lewolaga, yang secara administratif berada di Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, memiliki sejarah panjang dalam memeluk iman Katolik. Paroki Lewolaga sendiri berdiri sejak tahun 1930-an, dilanjutkan oleh para pastor dari kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF). Dengan jumlah umat yang signifikan dan tersebar di sepuluh *stasi* (wilayah pelayanan gereja), masyarakat Lewolaga dikenal sangat religius. Namun, religiusitas ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh subur di tanah budaya yang kaya, yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi pascapaskah di Lewolaga tidak hanya terbatas pada rangkaian ibadah di gereja. Jauh sebelum itu, hingga kini, masyarakat setempat tetap menjalankan berbagai ritual adat yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Paskah. Hal ini menunjukkan bahwa bagi mereka, iman dan budaya adalah dua sisi mata uang yang sama, saling melengkapi dan memperkaya makna perayaan kebangkitan Kristus.

Jejak Sejarah Semana Santa di Lewolaga

Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah rangkaian perayaan Pekan Suci, yang dikenal sebagai *Semana Santa*. Meskipun *Semana Santa* paling masyhur identik dengan Larantuka, tradisi ini juga memiliki jejak sejarah yang kuat di Lewolaga, bahkan diperkirakan telah ada sejak abad ke-16 atau bahkan sebelumnya. Konon, tradisi ini dibawa oleh suku Bentu-Kelasa (D'clas) yang datang dari Malaka, membawa serta peralatan rohani dan patung-patung religius.

Di Lewolaga, *Semana Santa* bukanlah sekadar pengulangan ritual dari tempat lain. Ia diresapi dengan nuansa lokal yang kental. Salah satu elemen penting adalah Kapela Menino Jesus, yang didirikan berdasarkan kesepakatan bersama antara suku Bentu-Kelasa dengan para tokoh agama dan masyarakat. Patung Menino Jesus, yang menggambarkan Yesus sebagai anak kecil memikul dunia, memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat setempat.

Prosesi *Jumad Agung* atau *Semana Santa* di Lewolaga melibatkan berbagai ritual unik. Pada hari Selasa sebelum Paskah, misalnya, dilakukan upacara doa di Kapela Menino Jesus, diikuti dengan pemandian patung-patung dan perlengkapan sengsara oleh warga suku Bentu-Kelasa yang dipercaya. Pada hari Jumat Agung, umat melakukan Jalan Salib yang berakhir di Gua Maria Lewo Oking, sebelum akhirnya mengikuti perayaan Ekaristi mengenangkan kematian Tuhan Yesus. Tradisi mengunjungi makam keluarga juga menjadi bagian penting sebelum umat berkumpul di gereja untuk mengikuti acara Lamentasi terakhir dan Prosesi Jumat Agung.

Dalam prosesi ini, patung Jenasah Yesus diarak oleh para *Lakademu* dari gereja menuju *armida-armida* (bangunan sementara yang dihias) dan kembali lagi ke gereja. Umat berdoa sambil membawa lilin, diiringi nyanyian ratapan oleh ibu-ibu *Santa Ana*. Keunikan lain adalah adanya *armida* yang jumlahnya terus bertambah seiring perkembangan pemukiman, yang kini terdiri dari enam *armida* yang mewakili berbagai suku di Desa Lewolaga.

Perpaduan Iman dan Kearifan Lokal

Yang membuat perayaan pascapaskah di Lewolaga begitu istimewa adalah bagaimana nilai-nilai spiritualitas Katolik beriringan harmonis dengan kearifan lokal. Gereja setempat memberikan ruang bagi tradisi adat untuk hidup berdampingan, saling mengisi tanpa saling menegasikan. Hal ini justru memperkaya makna perayaan Paskah itu sendiri, menjadikannya sebuah mozaik budaya yang indah.

Contoh nyata dari perpaduan ini adalah bagaimana tradisi *Semana Santa* telah beradaptasi dan diwariskan. Meskipun beberapa patung dan perlengkapan mungkin mulai lapuk dimakan usia, semangat pelestariannya tetap terjaga. Masyarakat Lewolaga tidak hanya menjalankan ritual keagamaan, tetapi juga merawat identitas mereka sebagai sebuah komunitas. Tradisi ini menjadi semacam perekat sosial yang kuat, menciptakan semangat kebersamaan yang terasa saat prosesi berlangsung, melibatkan semua lapisan masyarakat, dari tua hingga muda.

Fenomena ini bukan tanpa tantangan. Di beberapa wilayah Flores Timur, pernah terjadi gesekan antara modernitas dan tradisi, bahkan antara pemeluk agama yang berbeda atau antara penganut agama baru dengan tradisi adat. Namun, di Lewolaga, justru terlihat adanya upaya untuk menjaga harmoni. Bahkan, dalam prosesi Jumat Agung, pemuda dari agama Islam pun turut menjaga keamanan, membentuk pagar betis di Katedral Reinha Rosari Larantuka. Ini menunjukkan adanya toleransi antarumat beragama yang kuat di Flores Timur, yang tercermin pula dalam perayaan *Semana Santa* secara umum, yang tidak hanya menggeliatkan ekonomi dan pariwisata, tetapi juga menjadi wujud toleransi.

Identitas Komunitas yang Terawat

Lebih dari sekadar ritual keagamaan, tradisi pascapaskah di Lewolaga adalah wujud pelestarian identitas budaya. Ia mengajarkan tentang penghormatan kepada leluhur, memperkuat keimanan, sekaligus menumbuhkan rasa persaudaraan di antara warga. Hal ini sangat relevan di era modern, di mana kemajuan teknologi seringkali mengancam kelestarian budaya lokal.

Di tengah arus globalisasi, masyarakat Lewolaga membuktikan bahwa tradisi dapat tetap lestari dan relevan. Upacara adat seperti *Polo Mang*, yang merupakan upacara syukuran hasil panen, tetap dijalankan, menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih dijunjung tinggi. Walaupun mayoritas masyarakat memeluk agama Katolik, mereka tetap memegang teguh ajaran leluhur yang telah diwariskan sejak zaman nenek moyang.

Perpaduan agama dan budaya di Lewolaga adalah contoh nyata bagaimana sebuah komunitas dapat mempertahankan akar budayanya sambil merangkul nilai-nilai universal agama. Ini adalah warisan yang tak ternilai harganya, sebuah bukti bahwa iman dan budaya dapat berdampingan, saling menguatkan, dan menciptakan keindahan yang abadi. Semangat ini patut terus dijaga dan dilestarikan, tidak hanya untuk masyarakat Lewolaga, tetapi juga sebagai inspirasi bagi Indonesia.

Source: antaranews.com



#Paskah #Budaya Flores Timur #Tradisi Keagamaan

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama