Sekolah di Flores Timur Normal Kembali Pasca Gempa, Trauma Siswa Diatasi dengan Pendampingan Psikososial

BUGALIMA - Luka fisik akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,6 yang mengguncang Flores Timur pada Rabu malam, 8 April 2026, memang perlahan membaik. Namun, yang lebih penting dan butuh perhatian ekstra adalah luka batin dan trauma yang membekas di hati para siswa dan guru. Berita baiknya, proses belajar mengajar di Kabupaten Flores Timur berangsur normal kembali. Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Flores Timur, Felix Suban Hoda, menyampaikan kabar gembira ini, menegaskan bahwa semangat anak-anak Flores Timur untuk menuntut ilmu tak luntur meski dilanda bencana.

Pada hari pertama pascagempa, Kamis (9/4/2026), memang ada jeda. Bukan karena sekolah diliburkan, melainkan karena para siswa dan guru masih dalam kondisi syok dan trauma akibat guncangan yang tiba-tiba datang di malam hari. Rasa takut yang mendalam membuat konsentrasi buyar, dan melanjutkan pembelajaran menjadi hal yang mustahil saat itu. Namun, jangan salah, jiwa pantang menyerah para pendidik dan semangat belajar anak-anak bangsa membuktikan bahwa optimisme itu nyata. Sejak Jumat (10/4/2026), kegiatan belajar mengajar sudah mulai menggeliat kembali, menepis keraguan dan menorehkan harapan baru.

Sumber: Pixabay

Kerusakan Fisik yang Terkendali

Meski guncangan cukup terasa, kabar baiknya adalah kerusakan bangunan sekolah secara umum tergolong ringan. Retakan dinding memang muncul di beberapa sekolah yang tersebar di Kecamatan Adonara Timur dan Solor Timur. Sebut saja TK Alam Aliman dan SDN Terong di Desa Terong, serta beberapa sekolah di Desa Lamahala seperti SDN 23 Lamahala, SD Inpres Lamahala, SMP Negeri 1 Adonara Timur, dan SMA Muhammadiyah. Di Kecamatan Solor Timur, kerusakan juga terjadi di TK Alfafajar, SDN Lamakera, dan SD Inpres Lewobuku. Total ada 1.081 peserta didik yang terdampak gempa, namun kerusakan yang terjadi tidak sampai menghentikan total aktivitas belajar mengajar dalam jangka panjang. Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga, Felix Suban Hoda, menjelaskan bahwa perbaikan kerusakan ringan ini ditangani secara bertahap, bahkan dengan memanfaatkan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) sesuai petunjuk teknis. Ini menunjukkan efektivitas pengelolaan dana pendidikan yang ada.

Melawan Trauma dengan Pendampingan Psikososial

Menyadari bahwa dampak gempa tidak hanya bersifat fisik, Dinas Pendidikan juga mengambil langkah proaktif dalam penanganan aspek psikologis. Pendampingan psikososial menjadi kunci utama untuk membantu siswa dan guru pulih dari trauma pascagempa. Pendekatan ini diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, bukan sebagai kegiatan terpisah yang membebani. Selain itu, dukungan dari berbagai elemen masyarakat, seperti PKK dan Dharma Wanita, turut memperkuat jejaring pemulihan ini. Upaya ini sejalan dengan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang telah diterapkan, mencakup edukasi prosedur keselamatan seperti "drop, cover, and hold on".

Ini bukan pertama kalinya pendidikan di Flores Timur menghadapi tantangan pasca-bencana. Kita bisa melihat bagaimana gempa beruntun sebelumnya juga menguji ketahanan warga. Ada siswa yang terpaksa belajar di bawah pohon karena kondisi bangunan sekolah yang tidak aman, atau bahkan harus tidur di tenda darurat. Situasi seperti ini menjadi pengingat pentingnya membangun infrastruktur pendidikan yang tahan bencana. Namun, semangat juang para guru dan siswa patut diacungi jempol. Meskipun dalam kondisi serba terbatas, mereka tetap berusaha menciptakan suasana belajar yang kondusif.

Keterlibatan Berbagai Pihak

Pemerintah Kabupaten Flores Timur sendiri bergerak cepat dengan menetapkan status tanggap darurat pascagempa. Data kerusakan rumah warga pun terus dihimpun, menunjukkan betapa luasnya dampak bencana ini. Pemerintah daerah tidak tinggal diam, berbagai upaya dilakukan untuk memulihkan kondisi, termasuk memastikan dunia pendidikan kembali berjalan normal.

Selain itu, inisiatif dari organisasi non-pemerintah juga sangat krusial. Save the Children Indonesia, misalnya, telah membangun ruang belajar sementara untuk anak-anak yang terdampak bencana letusan Gunung Lewotobi sebelumnya, menunjukkan komitmen jangka panjang dalam pemulihan pendidikan. Meskipun skala gempa kali ini berbeda, semangat kolaborasi semacam ini sangat penting untuk terus dipupuk.

Proses pemulihan pendidikan pascagempa memang membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas pendidikan, sekolah, guru, orang tua, hingga organisasi masyarakat sipil. Kerjasama ini menjadi tulang punggung untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan hak belajarnya. Dengan langkah-langkah yang terstruktur dan dukungan yang berkelanjutan, aktivitas belajar mengajar di Flores Timur tidak hanya kembali normal, tetapi juga menjadi lebih kuat dan tangguh menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Source: RRI.co.id



#Flores Timur #Pendidikan Pasca Gempa #Pemulihan Trauma

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama