BUGALIMA - Gemuruh yang menggetarkan bumi Adonara Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan jejak kepanikan dan kehancuran. Gempa yang melanda pada Rabu malam, 8 April 2026, dan berlanjut dengan rentetan gempa susulan, tak hanya mengguncang rumah-rumah warga, tetapi juga menguji ketangguhan para abdi negara dan lembaga kemanusiaan. Di tengah situasi yang mencekam, kehadiran Babinsa (Bintara Pembina Desa) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur menjadi mercusuar harapan bagi masyarakat yang terdampak.
Kabar tentang gempa yang menggetarkan Adonara Timur pertama kali terdengar pada Rabu, 8 April 2026, pukul 23.17 WITA, dengan kekuatan magnitudo 4,7. Belum hilang rasa ngeri dari getaran pertama, warga kembali diguncang oleh gempa susulan pada Kamis, 9 April 2026, pukul 04.54 WITA, dengan magnitudo 3,8. Total, BMKG mencatat adanya 99 kejadian gempa susulan hingga Jumat sore, 11 April 2026. Getaran yang dirasakan begitu nyata, bahkan digambarkan seperti truk yang berlalu, membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah.
| Sumber: Pixabay |
Situasi darurat ini memicu respons cepat dari berbagai pihak. Babinsa, yang merupakan ujung tombak TNI di tingkat desa, bersama BPBD Flores Timur, segera bergerak melakukan pendataan dan penanganan dampak gempa. Fokus utama mereka adalah Desa Terong dan Desa Lamahala, dua wilayah yang dilaporkan mengalami kerusakan paling parah.
Pendataan Dampak Gempa: Langkah Krusial Pasca-Bencana
Proses pendataan menjadi langkah awal yang sangat krusial. Tim gabungan yang terdiri dari Babinsa dan petugas BPBD bekerja tanpa lelah untuk mencatat kerusakan rumah warga, baik yang bersifat ringan, sedang, maupun berat. Data sementara menyebutkan bahwa sekitar 90 unit rumah di Desa Terong terdampak gempa. Namun, laporan lain menyebutkan bahwa total ratusan rumah di Desa Terong dan Desa Lamahala mengalami kerusakan, dengan data yang masih terus bergerak. Bahkan, ada laporan yang menyebutkan hingga 589 unit bangunan dan fasilitas umum mengalami kerusakan di dua kecamatan yang terdampak, yaitu Adonara Timur dan Solor Timur.
Kerusakan tidak hanya menimpa rumah tinggal, tetapi juga fasilitas umum seperti tempat ibadah dan sekolah dilaporkan mengalami kerusakan. Hal ini tentu saja menambah kompleksitas penanganan, mengingat pentingnya fasilitas tersebut bagi kehidupan sosial dan pendidikan masyarakat.
Penanganan Pengungsi dan Kebutuhan Mendesak
Akibat kerusakan rumah yang terjadi, banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Hingga Minggu, 12 April 2026, tercatat sebanyak 1.383 jiwa pengungsi di Desa Terong dan Lamahala Jaya. Bahkan, ada data yang menyebutkan total pengungsi mencapai 1.939 jiwa dari 13 desa yang terdampak. Warga memilih tidur di tenda-tenda darurat yang didirikan oleh BPBD, atau bahkan di teras rumah mereka, karena trauma dan kekhawatiran akan gempa susulan.
BPBD Flores Timur tidak tinggal diam. Selain melakukan pendataan, mereka juga sigap mendistribusikan bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi. Kebutuhan mendesak yang dilaporkan meliputi sembako, air bersih, perlengkapan mandi dan cuci, terpal, tikar, perlengkapan bayi dan balita, kursi roda, kasur lipat, hingga pembalut dewasa. Bantuan logistik ini disalurkan ke tenda-tenda darurat yang didirikan warga.
Peran Babinsa dan Sinergi Lintas Sektor
Kehadiran Babinsa dalam setiap kegiatan penanggulangan bencana, termasuk pendataan dampak gempa di Adonara Timur, menunjukkan peran penting mereka dalam pembinaan wilayah. Babinsa tidak hanya bertugas dalam aspek pertahanan, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, termasuk membantu meringankan beban korban bencana. Sinergi antara Babinsa dan BPBD, serta instansi terkait lainnya, menjadi kunci keberhasilan penanganan bencana. Kolaborasi ini memastikan bahwa bantuan sampai kepada yang membutuhkan dengan cepat dan tepat sasaran.
Meskipun data korban jiwa nihil, namun tercatat ada beberapa warga yang mengalami luka ringan, bahkan ada yang mengalami gangguan pada tulangnya saat menyelamatkan diri. Hal ini menjadi pengingat bahwa keselamatan warga tetap menjadi prioritas utama dalam setiap upaya penanganan.
Situasi pasca-gempa memang tidak mudah. Warga yang masih diliputi trauma memilih untuk bermalam di luar rumah, membangun tenda darurat, bahkan ada yang berjaga di teras rumah untuk mengantisipasi gempa susulan. Namun, dengan kerja sama yang solid antara Babinsa, BPBD, dan seluruh elemen masyarakat, diharapkan pemulihan pasca-gempa dapat berjalan lancar dan Adonara Timur kembali bangkit dari keterpurukan.
Source: https://www.gentranews.com/babinsa-bersama-bpbd-lakukan-pendataan-dampak-gempa-di-adonara-timur/
#Gempa Adonara #BPBD Flores Timur #Babinsa