BUGALIMA - Di tengah terik matahari Flores Timur yang menyengat, sebuah peristiwa monumental terjadi di Pulau Adonara. Setelah berbulan-bulan dibayangi konflik horizontal yang merenggut kedamaian, kini sorak-sorai harapan kembali bergema. Warga Adonara, yang terpecah belah oleh sengketa lahan yang panas, kini memilih jalan rekonsiliasi. Bukti nyata dari niat baik ini terhampar di hadapan mata: 192 pucuk senjata, baik rakitan maupun senjata tajam, telah diserahkan secara sukarela kepada pihak kepolisian. Sebuah pemandangan yang mengharukan sekaligus membanggakan.
Akar Konflik yang Mengakar Kuat
Konflik yang melanda Adonara ini bukanlah sekadar perselisihan kecil. Akarnya tertanam dalam dalam pada sengketa lahan yang tak kunjung usai. Berbulan-bulan warga Desa Narasaosina, Desa Saosina, dan Desa Waiburak saling berhadapan, bahkan tak segan menggunakan senjata untuk mempertahankan klaim mereka. Dampaknya sungguh memilukan: rumah-rumah penduduk dibakar, tujuh orang terluka, dan suasana ketakutan menyelimuti pulau yang indah ini. Bahkan, Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, menyatakan sikap tegas, tidak akan memberikan bantuan kepada pihak yang berkonflik, menegaskan bahwa konsekuensi dari pilihan berperang harus ditanggung sendiri. Sikap keras ini diambil agar masyarakat benar-benar menyadari dampak perbuatannya.| Sumber: Pixabay |
Peran Pendekatan Persuasif dan Kearifan Lokal
Namun, di balik setiap konflik, selalu ada harapan untuk perdamaian. Kali ini, harapan itu terwujud berkat upaya pendekatan persuasif yang tak kenal lelah dari pihak kepolisian dan pemerintah daerah. Kepala Bidang Humas Polda NTT, Komisaris Besar Henry Novika Chandra, menjelaskan bahwa melalui pendekatan intelijen dan komunikasi intensif dengan berbagai kalangan masyarakat, termasuk tokoh adat dan tokoh agama, warga akhirnya tersadarkan. Pendekatan ini tidak hanya mengandalkan kekuatan hukum, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan dan kearifan lokal yang telah mengakar di Adonara.Perempuan-perempuan Adonara yang trauma akibat konflik bangkit mengampanyekan pesan damai melalui teater. Sebuah gerakan budaya yang kuat untuk menyuarakan perdamaian di pulau yang pernah dijuluki "pulau para pembunuh" oleh antropolog Eropa. Upaya penyelesaian sosial melalui dialog, mediasi, dan rekonsiliasi berbasis kearifan lokal terus dilaksanakan demi menjaga persaudaraan.
Penyerahan Senjata: Simbol Perdamaian yang Nyata
Puncak dari upaya rekonsiliasi ini adalah penyerahan senjata api rakitan dan senjata tajam. Awalnya, sebanyak 52 pucuk senjata diserahkan pekan lalu. Kemudian, pada Selasa (26/5/2026), 140 pucuk senjata lainnya menyusul. Total 192 pucuk senjata yang diserahkan dari kedua belah pihak yang bertikai, menunjukkan adanya niat baik untuk mengakhiri permusuhan.Di Pontianak Post, diberitakan bahwa barang yang diserahkan terdiri dari 19 pucuk senjata api rakitan, 90 batang anak panah, 27 buah busur, serta empat amunisi. Sementara itu, di Flores Timur, warga Dusun Bele, Desa Waiburak, menyerahkan 30 pucuk senjata api rakitan, 171 butir amunisi, 3 busur, 22 anak panah, dan 1 tombak. Penyerahan ini diapresiasi oleh aparat kepolisian sebagai langkah positif dalam menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang aman dan kondusif.
Tantangan ke Depan: Membangun Kepercayaan dan Mencegah Konflik Berulang
Meskipun senjata telah diserahkan, jalan menuju perdamaian sejati masih panjang. Akar persoalan sengketa lahan harus diselesaikan hingga tuntas agar konflik tidak terulang kembali. Pemerintah daerah dan aparat keamanan terus melakukan pendekatan persuasif, dialogis, dan persuasif melalui sinergi bersama tokoh agama, tokoh adat, pemerintah desa, dan seluruh elemen masyarakat.Pemerintah juga berkomitmen mempercepat pembangunan infrastruktur dan permukiman di Adonara Barat sebagai bagian dari upaya pemulihan pascakonflik sosial. Pembangunan rumah yang rusak harus dilakukan bersamaan dengan pembangunan akses jalan untuk mencegah kesenjangan.
Pesan untuk Adonara: Damai Itu Indah
Peristiwa penyerahan senjata ini menjadi pengingat bahwa perdamaian adalah pilihan yang selalu ada. Komunitas yang pernah terpecah kini memiliki kesempatan untuk membangun kembali persaudaraan dan kepercayaan. Pesan damai yang digaungkan oleh perempuan Adonara, serta upaya keras dari berbagai pihak, semoga menjadi lentera yang menerangi jalan Adonara menuju masa depan yang lebih cerah dan harmonis. Mari kita jaga anugerah perdamaian ini, agar Adonara kembali menjadi pulau yang penuh kedamaian dan keindahan.Source: Kompas.id
#Adonara #Perdamaian #Penyelesaian Konflik