BUGALIMA - Malam takbiran di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sungguh terasa istimewa. Ratusan umat Islam menggelar pawai obor yang mereka sebut "long march obor". Sebuah tradisi yang tak hanya membelah kegelapan malam, tetapi juga menerangi jalan menuju Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, menandakan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap syiar Islam dan kerukunan umat beragama di wilayahnya.
Perjalanan dimulai dari Kantor Bupati, mengelilingi Kota Larantuka, dan berakhir di Masjid Agung Syuhada Larantuka. Sepanjang rute, lautan manusia beriringan, membawa obor yang menyala, sambil serempak mengumandangkan kalimat takbir, tahmid, dan tahlil. Tak hanya kaum dewasa, anak-anak pun turut bersemangat, seolah api obor di tangan mereka merepresentasikan semangat kemenangan yang membara dalam dada.
Kemeriahan yang Dibalut Keagungan
Takbir keliling di Larantuka bukan sekadar pawai biasa. Ada sentuhan magis yang membuatnya berbeda. Empat mobil hias turut memeriahkan suasana, dihiasi dengan lampion LED berwarna-warni yang tergantung apik. Iringan gendang dan nyanyian kemenangan Islami menggema, menciptakan simfoni kebahagiaan yang harmonis di sepanjang jalan. Mobil-mobil hias ini berasal dari masjid-masjid besar di Larantuka, seperti Masjid Agung Syuhada, Masjid Ash Shamad Postoh, Masjid Al Amin Weri, dan Masjid Al Mujahidin Batu Ata. Keikutsertaan mereka menunjukkan kekompakan umat Islam Larantuka dalam merayakan hari besar keagamaan.
Lebih dari Sekadar Pawai
Adam Betan, Koordinator Humas Pengurus Hari Besar Islam (HBI) Kota Larantuka, menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna mendalam. "Pawai obor ini tidak hanya diikuti umat Islam dari empat masjid di Kota Larantuka, tetapi juga Paguyuban Umat Islam Jawa," ujarnya. Ini menunjukkan bahwa pawai obor ini telah menjadi daya tarik dan simbol kebersamaan yang melampaui batas-batas kelompok.
Lebih lanjut, Adam berharap pawai obor ini menjadi syiar bagi umat Islam sekaligus penanda datangnya Hari Raya Idul Fitri. "Malam ini dilakukan pawai obor sebagai syarat kemenangan itu. Semoga umat Muslim yang berpuasa, besok hari bisa kembali ke Fitra, kembali ke bersih seperti bayi baru lahir," tuturnya penuh harap. Pernyataan ini menggarisbawahi esensi Idul Fitri sebagai momen penyucian diri dan kembali ke kesucian asal.
Toleransi yang Terjalin Erat
Keunikan Larantuka sebagai "miniatur Indonesia" semakin terlihat dalam perayaan keagamaan. Kerukunan antarumat beragama bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang terjaga dari tahun ke tahun. Meskipun acara ini berfokus pada perayaan Idul Fitri, kehadiran Bupati dan dukungan pemerintah daerah menjadi bukti nyata toleransi yang telah terjalin erat. Larantuka dikenal dengan perayaan Semana Santa yang meriah, yang diikuti oleh umat Katolik. Fakta bahwa perayaan Idul Fitri dan Semana Santa berdekatan dalam waktu menunjukkan bagaimana keragaman keyakinan dapat dirayakan bersama dengan harmonis.
Simbol Kebersamaan dan Harapan
Pawai obor di Larantuka bukan hanya tentang kemeriahan semata. Ia adalah simbol kebersamaan umat Islam dalam merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Obor yang menyala di kegelapan malam melambangkan cahaya iman yang terus berkobar, menerangi jalan menuju kebaikan dan ketakwaan. Keikutsertaan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, pemerintah daerah, hingga warga biasa, menegaskan bahwa perayaan ini adalah milik bersama.
Kegiatan semacam ini menjadi pengingat bahwa Idul Fitri lebih dari sekadar hari libur. Ia adalah momen untuk merenungkan makna puasa, mempererat tali silaturahmi, dan menebar kasih sayang. Long march obor di Larantuka ini menjadi contoh bagaimana tradisi dapat terus dihidupkan dengan semangat kekinian, tanpa kehilangan makna spiritualnya yang mendalam.
Source: detikcom
#TakbiranLarantuka #PawaiOborIdulFitri #SemarakIdulFitriFloresTimur