BUGALIMA - Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang sering kali memisahkan, momen persatuan dan konsolidasi gagasan menjadi sangat berharga. Inilah yang coba diwujudkan oleh keluarga besar Lamakera melalui Reuni VII Keluarga Besar Lamakera se-Indonesia dan Musyawarah Nasional (Munas) II Yayasan Amal Lamakera (YAMALI) yang akan diselenggarakan di Makassar pada 3-7 Juli 2026 mendatang. Acara ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah upaya akbar untuk merajut kembali benang-benang ukhuwah, mengkonsolidasikan gagasan strategis, memperkuat jaringan, dan meneguhkan komitmen keberlanjutan demi masa depan Lamakera sebagai episentrum peradaban Islam.
Reuni VII ini mengusung tema yang sarat makna: "Meneguhkan Soliditas Diaspora, Memperkokoh Institusi YAMALI dan Melanjutkan Agenda Lamakera sebagai Epicentrum Peradaban Islam." Tema ini mencerminkan semangat yang lebih progresif dan visioner, bukan hanya sekadar ajang temu kangen, tetapi lebih kepada ruang strategis untuk merumuskan arah masa depan Lamakera. YAMALI, sebagai wadah utama, diharapkan bertransformasi menjadi motor penggerak perubahan sosial, pendidikan, dan keagamaan di Lamakera.
| Sumber: Pixabay |
YAMALI: Rumah Bersama untuk Masa Depan Lamakera
Prof. HM. Thahir Maloko, seorang tokoh penting dalam YAMALI, menekankan bahwa momen Reuni VII dan Munas II ini harus dimaknai melampaui sekadar seremoni. Ini adalah kesempatan emas untuk menyatukan visi, memperkuat komitmen, dan merumuskan langkah-langkah konkret yang berdampak nyata. "YAMALI milik semua anak Lewotana. Karenanya semua harus mengambil bagian. Tidak boleh ada sekat. Tidak boleh lagi ada polarisasi. Tidak boleh ada lagi pertikaian, konflik dan lain-lain. YAMALI adalah rumah bersama, yang harus kita jaga dan kembangkan secara kolektif," tegasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kebersamaan dan menghilangkan perbedaan demi kemajuan bersama.
Lebih lanjut, Prof. Thahir Maloko menekankan bahwa YAMALI sejatinya adalah milik bersama seluruh anak Lewotana, bukan hanya segelintir orang atau kelompok tertentu. Setiap individu, baik yang berada di kampung halaman maupun di perantauan, memiliki tanggung jawab moral dan etika untuk terlibat aktif, memberikan kontribusi, dan menjaga keberlanjutan organisasi. Munas II YAMALI diharapkan menjadi forum dialektika gagasan-pemikiran, bukan sekadar forum formalitas organisasi. Ini adalah momen untuk berdiskusi, bertukar pikiran, dan menghasilkan rumusan-rumusan strategis yang dapat membawa perubahan positif.
Memperkuat Networking dan Komitmen Keberlanjutan
Di era globalisasi ini, penguatan *networking* atau jaringan menjadi kunci penting bagi setiap organisasi. Reuni VII dan Munas II YAMALI menjadi ajang yang sangat tepat untuk memperluas dan mempererat jejaring antaranggota diaspora Lamakera. Dengan berkumpulnya individu dari berbagai latar belakang profesi dan daerah, diharapkan dapat terjalin sinergi yang kuat untuk mendukung program-program YAMALI dan pembangunan Lamakera secara keseluruhan.
Komitmen terhadap keberlanjutan juga menjadi sorotan utama dalam acara ini. Pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi, tetapi juga sosial, budaya, dan lingkungan. YAMALI, sebagai lembaga yang berorientasi pada kemajuan peradaban, dituntut untuk merumuskan strategi yang mampu menjamin keberlanjutan program-programnya. Hal ini mencakup pengelolaan sumber daya yang bijak, pengembangan inovasi, serta pemberdayaan masyarakat agar mampu berpartisipasi aktif dalam setiap proses pembangunan.
Lamakera: Visi Episentrum Peradaban Islam
Reuni VII dan Munas II YAMALI memiliki visi besar untuk melanjutkan agenda Lamakera sebagai episentrum peradaban Islam. Ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah panggilan untuk mengembalikan kejayaan masa lalu dan membangun masa depan yang lebih gemilang. Dengan menggali nilai-nilai Islam yang luhur, kearifan lokal (*local wisdom*), dan semangat gotong royong, diaspora Lamakera diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan peradaban.
Upaya untuk menjadikan Lamakera sebagai episentrum peradaban Islam memerlukan kerja keras dan sinergi dari seluruh pihak. YAMALI berperan sebagai katalisator, memfasilitasi berbagai kegiatan dan program yang mendukung visi ini. Mulai dari bidang pendidikan, sosial, keagamaan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Semua elemen harus bergerak bersama, bersatu padu, dan berkomitmen untuk mewujudkan cita-cita mulia ini.
Pelajaran dari Momen Persatuan
Momen-momen seperti Reuni VII dan Munas II YAMALI ini mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dan kolaborasi. Dalam berbagai konteks, persatuan telah terbukti menjadi kekuatan dahsyat dalam menghadapi tantangan dan meraih kemajuan. Seperti halnya Piagam Ukhuwah yang menegaskan komitmen persatuan bangsa, atau Musyawarah Nasional Alim Ulama yang melahirkan "Seruan Bali" untuk menjaga harmoni, acara YAMALI ini juga berupaya menumbuhkan semangat ukhuwah di antara sesama.
Semangat persatuan ini juga tercermin dalam berbagai inisiatif kolaborasi yang terjadi di Makassar, seperti yang dilakukan oleh LPkM UMI dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar untuk mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa ketika berbagai pihak bersatu dan berkolaborasi, potensi besar dapat diwujudkan.
Reuni VII dan Munas II YAMALI Makassar ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru bagi keluarga besar Lamakera. Dengan landasan ukhuwah yang kuat, gagasan yang terkonsolidasi, jaringan yang solid, dan komitmen keberlanjutan yang tak tergoyahkan, Lamakera akan semakin kokoh berdiri sebagai episentrum peradaban Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
#YAMALI #Makassar #Peradaban Islam