Inflasi Merajalela, Warga Adonara Flores Timur Tetap Bertahan dengan Sistem Barter Kuno

BUGALIMA - Di tengah riuh rendah kabar inflasi yang membuat banyak kepala pening, ada sebuah kisah unik yang datang dari ujung timur Indonesia, tepatnya di Adonara, Flores Timur. Di saat sebagian besar masyarakat Indonesia was-was memikirkan daya beli yang terkikis akibat pelemahan rupiah, warga Adonara justru masih teguh memegang tradisi leluhur: sistem barter. Sebuah praktik ekonomi yang mungkin terdengar asing di telinga generasi milenial dan gen Z, namun di sana, ia tetap hidup, bahkan menjadi denyut nadi perekonomian sehari-hari.

Fenomena ini sungguh menarik, pasalnya, kita kerap mendengar narasi tentang bagaimana inflasi menggerogoti sendi-sendi kehidupan, membuat harga kebutuhan pokok melambung tak terkendali, dan memaksa masyarakat berhemat secara ekstrem. Namun, di Adonara, cerita itu seolah berputar 180 derajat. Para pedagang dan pembeli di sana tidak terlihat panik menghadapi gejolak ekonomi makro. Mereka justru tampak tenang, bahkan bahagia, saat melakukan transaksi tukar-menukar barang. "Di sini, kemanusiaan lebih tinggi dari nominal, mereka saling bertukar hasil bumi dengan benda lain. Dapat kita lihat wajah-wajah bahagia masyarakat Adonara tanpa khawatir inflasi," ujar salah satu akun Instagram @infopop.id yang mengunggah momen tersebut.

Sumber: Pixabay

Ini bukan sekadar cerita dongeng atau nostalgia masa lalu. Sistem barter di Adonara adalah sebuah realitas yang masih berjalan hingga kini. Berbagai sumber, termasuk pemberitaan dari Krjogja.com, menunjukkan bahwa masyarakat di Adonara, terutama di wilayah seperti Kecamatan Klubagolit, masih aktif mempraktikkan barter. Warga yang tinggal di pegunungan, misalnya, akan membawa hasil bumi seperti pisang atau ubi, lalu menukarnya dengan ikan hasil tangkapan nelayan dari pesisir pantai. Begitu pula sebaliknya, nelayan bisa menukar ikan dengan sayuran atau hasil pertanian lainnya. Tradisi ini tidak hanya terbatas pada pertukaran hasil bumi dan laut, tetapi juga barang-barang kebutuhan sehari-hari lainnya.

Mengapa sistem barter ini masih bertahan di tengah gempuran ekonomi modern dan ancaman inflasi? Ada beberapa alasan kuat yang mendasarinya. Pertama, ini adalah warisan budaya yang mengakar kuat. Bagi masyarakat Adonara, barter bukan sekadar metode transaksi, melainkan bagian dari identitas dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Hal ini menciptakan rasa kebersamaan dan kekeluargaan yang erat antarwarga.

Kedua, sistem barter dianggap lebih memanusiakan. Dalam sistem ini, yang diperdagangkan adalah hasil kerja keras, keringat, dan jerih payah. Nilai kemanusiaan dan kepercayaan antarindividu menjadi lebih tinggi dibandingkan sekadar nominal angka dalam transaksi digital atau uang kertas. Ini berbeda dengan sistem ekonomi kapitalistik yang terkadang dinilai hanya mengedepankan keuntungan semata, bahkan seringkali dikritik karena menciptakan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Dengan barter, hubungan antarwarga desa terbangun atas dasar saling percaya dan gotong royong.

Ketiga, di beberapa wilayah seperti Adonara, peredaran uang tunai memang masih tergolong terbatas. Hal ini menjadikan barter sebagai solusi paling praktis dan efisien untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya pasar barter yang terorganisir, seperti yang ada di beberapa titik di Pulau Adonara seperti Watanpao, Baniona, Waiwerang, Waiwadan, dan Sagu, aktivitas ekonomi ini menjadi lebih lancar. Pasar Mirek di Kecamatan Witihama juga menjadi salah satu contoh pusat aktivitas barter yang masih aktif.

Barter sebagai Benteng Pertahanan Ekonomi

Di saat berita tentang inflasi di Indonesia menunjukkan angka yang fluktuatif—meskipun pemerintah mengklaim inflasi terkendali di angka yang relatif rendah sepanjang 2023 dan 2024, bahkan disebut terendah dalam dua dekade terakhir—kebijakan pengendalian inflasi pangan yang masif, serta upaya stabilisasi harga melalui Gerakan Pangan Murah dan Operasi Pasar Murah, narasi dari Adonara memberikan perspektif lain.

Perlu dicatat bahwa meskipun data BPS menunjukkan inflasi y-on-y Februari 2024 sebesar 2,75 persen dan Bank Indonesia melaporkan inflasi IHK Desember 2024 sebesar 1,57% (yoy), ada juga analisis yang menyebutkan bahwa rendahnya inflasi bisa mencerminkan penurunan daya beli masyarakat kelas menengah. Ini menunjukkan bahwa di balik angka inflasi yang terkendali, mungkin saja ada tantangan lain terkait kemampuan masyarakat dalam mengonsumsi barang dan jasa.

Dalam konteks inilah, sistem barter di Adonara menjadi semacam benteng pertahanan ekonomi lokal. Ia menjadi cara masyarakat untuk bertahan dan beradaptasi dengan ketidakpastian ekonomi global maupun domestik. Alih-alih menolak penggunaan mata uang rupiah sepenuhnya, masyarakat Adonara menggunakan barter sebagai pelengkap atau bahkan alternatif utama dalam situasi tertentu. Tradisi ini mengajarkan tentang kemandirian, gotong royong, dan nilai-nilai kemanusiaan yang mungkin mulai terkikis di era ekonomi serba uang ini.

Melawan Kapitalisme Pangan

Lebih jauh lagi, praktik barter di Adonara juga dilihat sebagai upaya untuk melawan dominasi kapitalisme, terutama dalam sektor pangan. Kepala Disperindag Flores Timur, Siprianus Sina Ritan, menyatakan bahwa sistem barter dapat mengurangi peran kapitalis yang cenderung mengambil keuntungan besar. Nelayan yang hanya bisa menghasilkan ikan, misalnya, dapat menukarkan hasil lautnya dengan kebutuhan pokok lain seperti sayur dan ubi dari petani pegunungan, tanpa harus melalui perantara yang mengambil margin keuntungan berlipat. Ini adalah bentuk pemberdayaan ekonomi lokal yang cerdas dan berkelanjutan.

Gaya penulisan seperti yang dicontohkan oleh wartawan senior, Dahlan Iskan, kerapkali menyoroti isu-isu sosial dan ekonomi kerakyatan dengan bahasa yang sederhana namun mengena. Beliau terkenal dengan gaya naratif yang mudah dipahami, kalimat pendek yang lincah, dan sentuhan humor cerdas, serta selalu fokus pada substansi persoalan. Kisah dari Adonara ini, jika diceritakan dengan gaya tersebut, akan mampu menyentuh hati pembaca dan memberikan pelajaran berharga tentang kearifan lokal. Mengedepankan nilai kemanusiaan di atas transaksi semata, seperti yang dilakukan warga Adonara, adalah sebuah cerminan dari semangat gotong royong yang seharusnya tetap kita jaga, apapun kondisi ekonomi global maupun domestik.

Praktik barter di Adonara Flores Timur ini adalah pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk ekonomi modern, masih ada nilai-nilai luhur yang bisa kita pegang. Ia mengajarkan bahwa kekayaan sejati bukan hanya tentang jumlah uang yang kita miliki, tetapi juga tentang kekuatan hubungan sosial, rasa saling percaya, dan kemampuan beradaptasi demi kelangsungan hidup bersama.

Source: Krjogja



#barter Adonara #inflasi Indonesia #kearifan lokal Flores

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama