BUGALIMA - Malam takbiran di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali dimeriahkan oleh tradisi yang khas dan sarat makna: pawai obor. Pada Jumat, 20 Maret 2026, ratusan umat Islam menggelar long march membawa obor menyala, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai penanda datangnya Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Kegiatan ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah syiar Islam dan wujud nyata kebersamaan umat.
Pawai obor di Larantuka dimulai dari Kantor Bupati Flores Timur, mengelilingi kota, dan berakhir di Masjid Agung Syuhada Larantuka. Berbagai masjid seperti Masjid Agung Syuhada Larantuka, Masjid Ash Shamad Postoh, Masjid Al Amin Weri, dan Masjid Al Mujahidin Batu Ata turut berpartisipasi, bahkan diikuti pula oleh Paguyuban Umat Islam Jawa. Kemeriahan semakin terasa dengan adanya empat mobil hias yang dilengkapi lampion LED warna-warni serta iringan musik Islami.
| Gambar dari Pixabay |
Makna Mendalam di Balik Cahaya Obor
Pawai obor memiliki makna filosofis sebagai lambang cahaya penerang dalam kegelapan, yang mencerminkan nilai-nilai spiritual dan kebersamaan. Tradisi ini juga menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan, menanamkan nilai persahabatan, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air. Lebih dari itu, pawai obor mengandung nilai moderasi beragama dan harmoni sosial, menunjukkan pentingnya toleransi dan kebersamaan dalam masyarakat.
Koordinator Humas Pengurus Hari Besar Islam (HBI) Kota Larantuka, Adam Betan, menjelaskan bahwa pawai obor ini merupakan syiar bagi umat Islam sekaligus penanda datangnya Idul Fitri setelah sebulan penuh berpuasa. Ia berharap tradisi ini dapat mengembalikan umat Muslim ke fitrahnya, kembali bersih seperti bayi baru lahir. Bupati Flores Timur, Anton Doni Dihen, turut melepas pawai obor ini, menunjukkan dukungan penuh terhadap kegiatan keagamaan dan budaya di wilayahnya.
Tradisi yang Terus Dilestarikan
Pawai obor sebagai tradisi menyambut Idul Fitri telah dilaksanakan di Larantuka selama bertahun-tahun. Kegiatan ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat, tidak hanya umat Islam tetapi juga menjadi tontonan warga sepanjang rute pawai. Semarak pawai ini terlihat dari ratusan peserta yang mengular panjang, menambah kemeriahan malam takbiran.
Meskipun Idul Fitri 1447 H secara resmi ditetapkan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026 berdasarkan sidang isbat Kementerian Agama, tradisi pawai obor di Larantuka telah dilaksanakan sehari sebelumnya, yaitu pada malam takbiran tanggal 20 Maret 2026. Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat dalam menyambut hari kemenangan.
Tradisi Lintas Agama
Menariknya, pawai obor di Larantuka dan perayaan Idul Fitri di wilayah NTT sering kali mendapatkan sambutan positif dari pemuda lintas agama. Di Kupang, misalnya, pemuda gereja turut serta menyambut pawai takbiran sebagai bentuk toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi keagamaan di Indonesia, seperti pawai obor, dapat menjadi sarana perekat kebangsaan dan penguat harmoni sosial.
Pawai obor di Larantuka adalah contoh nyata bagaimana tradisi dapat terus hidup dan berkembang, membawa pesan-pesan kebaikan, kebersamaan, dan toleransi kepada seluruh masyarakat. Cahaya obor yang dinyalakan di malam takbiran bukan hanya menerangi jalan, tetapi juga menerangi hati dan mempererat persaudaraan.
* Source: https://www.detik.com/bali/nusra/d-7266144/semarak-malam-takbiran-warga-larantuka-long-march-obor
#PawaiOborLarantuka #IdulFitri1447H #TradisiLebaran